Lembata, 10 April 2026 – PEMBANGUNAN tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang menjaga nilai, merawat kepercayaan, dan berjalan seiring dengan kehidupan masyarakat.
Hal inilah yang tercermin dalam pelaksanaan seremonial adat pengukuhan Tim Kelompok Kerja (POKJA) Pengadaan Tanah untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Atadei di Desa Nubahaeraka.
Di tengah nuansa adat yang sakral, masyarakat dari seluruh suku pemilik tanah, tokoh adat, pemerintah, dan PLN duduk bersama dalam satu semangat: memastikan bahwa pembangunan hadir tanpa menghilangkan jati diri budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Prosesi adat yang dipimpin oleh tokoh masyarakat setempat, Bapak Yoseph Beda Lein, bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk pengakuan dan restu adat terhadap langkah bersama yang akan dijalankan. Dalam budaya masyarakat setempat, setiap keputusan besar harus melalui ruang adat agar tetap selaras dengan nilai leluhur dan harmoni sosial.
Sebanyak kurang lebih 70 peserta hadir, terdiri dari perangkat desa, unsur kecamatan, Tim POKJA Kabupaten dan Nubahaeraka, perwakilan Subsektor Atadei, Posramil Atadei, masyarakat suku pemilik lahan, pemangku adat, serta perwakilan PLN UIP Nusra dan PLN UPP Nusra 3. Kehadiran mereka mencerminkan kebersamaan yang tidak hanya administratif, tetapi juga emosional dan kultural.
Dalam sambutannya, tokoh adat menyampaikan pesan yang sederhana namun penuh makna: pembangunan harus menjadi jalan bersama untuk kehidupan yang lebih baik, tanpa meninggalkan akar budaya.
“Mari kita berjalan bersama, menyatukan hati untuk terang di tanah ini. Pembangunan ini bukan hanya milik pemerintah atau PLN, tetapi milik kita semua. Kita jaga tanah ini, kita jaga adat kita, dan kita sambut masa depan dengan bijaksana,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa listrik yang akan hadir bukan hanya membawa terang secara fisik, tetapi juga harapan bagi peningkatan ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat.
General Manager PLN UIP Nusra, Rizki Aftarianto, menegaskan bahwa PLN berkomitmen menjadikan adat dan budaya sebagai bagian dari fondasi pembangunan.
“Kami tidak datang untuk mengubah nilai yang sudah hidup di tengah masyarakat, tetapi justru ingin berjalan bersama, menghormati adat, dan memastikan setiap proses dilakukan dengan penuh keterbukaan dan keadilan. Kami percaya, ketika adat dihormati, maka kepercayaan akan tumbuh, dan pembangunan dapat berjalan dengan baik,” ujar Rizki.
Ia juga menambahkan bahwa PLTP Atadei merupakan bagian dari upaya menghadirkan energi bersih yang berkelanjutan, sekaligus membawa manfaat nyata bagi masyarakat lokal tanpa mengesampingkan kearifan yang telah ada.
Melalui langkah ini, PLN bersama masyarakat dan pemerintah daerah berkomitmen bahwa pembangunan PLTP Atadei bukan hanya tentang energi, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian budaya.
Di Nubahaeraka, pembangunan tidak berdiri sendiri—ia tumbuh bersama adat, hidup bersama masyarakat, dan diarahkan untuk masa depan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang. (adabnewsteam).
Berita Terkait
PLN dan Pemkab Ngada Mantapkan Sinergi Percepatan Pengembangan PLTP Mataloko
Dukung Ekonomi Lokal, PLN UIP Nusra Hadirkan Teknologi Pengolahan Kopi untuk Petani Wewo
Dekatkan Akses Kesehatan, PLN Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis bagi Warga Ring 1 PLTP Ulumbu Tanpa Biaya
Peresmian Rumah Adat Gonggor, PLN Bersama Masyarakat Adat Perkuat Sinergi Budaya dan Energi Panas Bumi
PLN Perkuat Kepastian Hukum Proyek Geothermal Atadei, Sinergi BPN Dukung PSN dan Transisi Energi
PLN Tanam 30.000 Pohon, Perkuat Rehabilitasi DAS Manni di Sumbawa
Bulan Ramadan 1447 H, PLN Hadirkan Promo Tambah Daya Melalui PLN Mobile
PLN Peduli PLN UIP Nusra Hadirkan Rumah Produksi Temu Lawak sebagai Lokomotif Ekonomi Baru Desa Wewo
Sepanjang 2025, TJSL PLN Peduli Jangkau Lebih dari 700 Ribu Penerima Manfaat di Seluruh Indonesia
PLN UIP Nusra Gandeng Politeknik KP Kupang Dorong Peningkatan Produksi Rumput Laut Lewat Metode Seleksi Varietas di Lifuleo