LEWOLEBA – Festival Internasional Lamaholot 2026 tidak hanya menghadirkan kemeriahan di panggung utama, tetapi juga mengajak wisatawan mancanegara menyelami kehidupan budaya masyarakat adat secara langsung pada hari kedua pelaksanaannya, Kamis (2/7/2026).
Kehadiran wisatawan mancanegara pada rangkaian post tour menjadi bukti meningkatnya daya tarik Festival Internasional Lamaholot sebagai destinasi wisata budaya bertaraf internasional.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lembata, Jack Wuwur kepada media ini, Kamis (2/7/2026) mengatakan, Setelah malam pembukaan yang berlangsung meriah di Pantai Wulen Luo, rombongan wisatawan asing bersama tamu undangan mengikuti agenda post tour ke sejumlah desa wisata di Kabupaten Lembata.
"Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memperkenalkan kekayaan budaya Lamaholot yang hidup dan diwariskan secara turun-temurun," ujar Jack Wuwur.
Malam pembukaan sebelumnya dihadiri jajaran Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, para bupati dari wilayah budaya Lamaholot, serta perwakilan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pembukaan resmi ditandai dengan tiupan buri atau cangkang siput secara bersama-sama, disertai penyerahan Piagam Karisma Event Nusantara (KEN) kepada Pemerintah Kabupaten Lembata.
Berbagai pertunjukan seni memukau ribuan pengunjung pada malam pertama, mulai dari Tari Dolo-Dolo asal Flores Timur, Tari Lego-Lego dari Alor, tarian kolosal Lamaholot, fashion show etnik, hingga pentas Sole Oha massal yang menampilkan semangat persaudaraan masyarakat Lamaholot.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lembata, Jack Wuwur menjelaskan, memasuki hari kedua, fokus kegiatan beralih pada eksplorasi budaya di Desa Wisata Atakore dan Lusilame. Wisatawan mancanegara disambut dengan tarian Holo Beba sebelum diajak mengunjungi dapur alam geothermal Karun Watuwawer, salah satu potensi wisata unik yang dimiliki Lembata.
Mereka juga menyaksikan secara langsung aktivitas menenun kain tradisional, kerajinan anyaman lontar, serta menikmati beragam kuliner khas masyarakat setempat. Interaksi tersebut memberikan pengalaman autentik mengenai kehidupan masyarakat adat yang masih menjaga tradisi leluhur.
Perjalanan budaya kemudian dilanjutkan ke Kampung Adat Lewogolen. Di lokasi ini, para wisatawan diperkenalkan dengan permainan rakyat Gese dan Erak, serta pertunjukan tari tradisional Dua Bolo yang sarat makna kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan budaya.
Selain menyaksikan pertunjukan seni, para pengunjung memperoleh pengalaman langsung hidup bersama masyarakat dan mengenal nilai-nilai budaya Lamaholot dari dekat.
Pada malam harinya, panggung utama di Pantai Wulen Luo kembali diramaikan dengan penampilan seni dari berbagai desa wisata serta paguyuban budaya dari Manggarai dan Ende, mempertegas semangat persatuan budaya Flores, Lembata, dan Alor dalam bingkai Festival Internasional Lamaholot 2026. (ADABNEWSTEAM).
Berita Terkait
Bimtek Kepenulisan Berbasis Budaya Resmi Dibuka, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Dorong Penguatan Kearifan Lokal
Plan Indonesia Dorong Kaum Muda Lembata Kembangkan Budidaya Semangka untuk Perkuat Ekonomi Desa
LSM Barakat dan Pena Buluh Gelar Pelatihan Peningkatan Kapasitas Bisnis Perempuan Nelayan dan Kelembagaan Desa
FKUB Lembata Siap Rayakan Hari Toleransi Internasional Gandeng Paguyuban Nusantara dan Pemuda Lintas Agama
LBH Sikap Tantang Pemda dan DPRD Lembata Hasilkan Perda Optimalisasi Tuak dan Arak
Lembata Fishing Tournament 2026, Peserta dari Indonesia, Australia hingga Timor Leste Ramaikan Perairan Lembata
SMPN 7 Maret Hadakewa Terapkan Sanksi Edukatif Cegah Kekerasan di Sekolah
Laptop Uzur dan Meja Kerangka Salon Songsong HPN 2026
Diseminasi Hasil Survei HIV/AIDS di Lembata Tegaskan Pentingnya Penguatan Edukasi Pencegahan Sejak Dini
Plan Indonesia Perkuat Kapasitas Konseling Guru BK untuk Cegah Perundungan dan Kekerasan Anak di Lembata