Mama Oa Resiona, Penjaga Kunci Kapela Tuan Ma dan Penjaga Jejak Lima Abad Iman di Larantuka

photo author
- Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:46 WITA
Mama Oa Resiona, Penjaga Kunci Kapela Tuan Ma dan Penjaga Jejak Lima Abad Iman di Larantuka
Mama Oa Resiona, Penjaga Pintu Kapela Tuan Ma Larantuka

Di balik pintu Kapela Tuan Ma di Pohon Siri, Larantuka, ada seorang perempuan sepuh yang setia melayani peziarah. Mama Oa Resiona menjaga kunci kapela, membuka pintunya bagi siapa saja yang ingin berdoa, sekaligus menjadi bagian dari kisah panjang warisan iman dan sejarah Suku Resiona.

LANGKAHNYA tak lagi setegap dahulu. Guratan usia tampak jelas di wajahnya. Namun, keramahan itu masih tinggal, demikian pula kesetiaannya menjalankan tugas yang telah melekat dalam kehidupannya: menjaga kunci Kapela Tuan Ma.

Dialah Mama Oa Resiona, perempuan sepuh yang menjadi salah satu sosok penting di balik kehidupan doa para peziarah di Pohon Siri, Kelurahan Balela, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Bagi peziarah yang ingin berdoa di Kapela Tuan Ma di luar jam buka, Mama Oa Resiona menjadi orang yang dapat dihubungi. Ia akan datang, membuka pintu kapela, dan mempersilakan mereka masuk untuk berdoa sejenak di hadapan arca legendaris Tuan Ma.

Tak banyak yang dimintanya. Tak pula ia perlu mengenal satu per satu orang yang datang.

Baginya, setiap orang yang mengetuk pintu kapela untuk berdoa adalah orang beriman, seseorang yang datang membawa harapan, pergumulan, atau permohonan bagi kehidupan yang lebih baik.

“Setiap hari banyak peziarah datang. Mereka ingin memasang lilin dan berdoa. Kami layani saja setiap permintaan itu,” demikian kisah yang mengalir dari kesehariannya menjaga kapela.

Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, ketika kami menyambangi rumah tua di samping Kapela Tuan Ma, Mama Oa Resiona menyambut dengan ramah. Ia memenuhi permintaan kami untuk berdoa sejenak di dalam kapela.

Sebuah tindakan sederhana, tetapi bagi peziarah yang datang dengan kerinduan untuk berdoa, terbukanya pintu kapela memiliki arti tersendiri.

Di tangan Mama Oa Resiona, kunci bukan sekadar benda untuk membuka pintu. Kunci itu menjadi penghubung antara mereka yang datang membawa doa dan sebuah tempat yang menyimpan sejarah panjang devosi kepada Bunda Maria di Larantuka.

Rumah Tua yang Menyimpan Sejarah

Sebelum memasuki Kapela Tuan Ma, perhatian tertuju pada sebuah rumah tua beratap ilalang. Rumah itu berdiri tegak di pinggir jalan raya, di kawasan Pohon Siri, tepat di samping kapela.

Di tengah perubahan zaman dan bangunan-bangunan yang terus tumbuh, rumah tersebut masih mempertahankan wajah tuanya. Atap ilalangnya menjadi penanda yang mudah dikenali, seolah mengingatkan siapa pun yang melintas bahwa di tempat itu tersimpan bagian penting dari kisah masa lalu Larantuka.

Rumah besar itu merupakan milik Suku Resiona. Menurut kisah yang diwariskan, usianya telah melampaui lima abad, sebanding dengan perjalanan sejarah arca legendaris Tuan Ma yang ditemukan oleh leluhur Suku Resiona.

Rumah tersebut bukan sekadar tempat tinggal keluarga. Ia menjadi saksi sejarah penemuan arca Tuan Ma, yang kemudian memiliki tempat istimewa dalam kehidupan iman umat Katolik di Larantuka.

Kedekatan rumah tua itu dengan kapela membuat keduanya seolah tak terpisahkan. Yang satu menyimpan jejak kehidupan keluarga dan sejarah leluhur, sementara yang lain menjadi ruang doa bagi umat yang datang mencari ketenangan dan menyampaikan permohonan.

Di antara keduanya, Mama Oa Resiona menjalankan perannya. Ia merawat sebuah tugas yang tampak sederhana, tetapi memiliki arti bagi orang-orang yang datang dari berbagai tempat untuk berziarah.

Prasasti Lima Abad Tuan Ma

Di sisi kanan Kapela Tuan Ma, sebuah prasasti menyimpan catatan penting mengenai perjalanan sejarah dan penghormatan terhadap Tuan Ma.

Prasasti itu ditandatangani pada 7 Oktober 2010 oleh Permaisuri Kerajaan Larantuka, Dona Martina Kanena Ximenes Da Silva, DVG, bersama Uskup Larantuka saat itu, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr.

Prasasti tersebut memuat pesan mengenai Memorial Lima Abad Tuan Ma, penyerahan Keuskupan Larantuka, serta harapan agar semua menjadi satu di bawah perlindungan Maria dan mengabdi kepada kebenaran dalam cinta kasih.

Pesan itu menghadirkan makna yang lebih luas dari sekadar penanda waktu. Ia mengingatkan bahwa penghormatan kepada Tuan Ma telah menjadi bagian dari perjalanan panjang iman dan identitas masyarakat Larantuka.

Lima abad bukanlah waktu yang singkat. Di dalam rentang sejarah itu, generasi demi generasi mewariskan kisah, tradisi, dan penghormatan kepada Bunda Maria. 

Rumah tua Suku Resiona dan Kapela Tuan Ma menjadi bagian dari lanskap sejarah yang terus hidup di tengah masyarakat.

Arca Tuan Ma tidak hanya dikenang sebagai peninggalan masa lalu. Bagi para peziarah, kapela tempat arca itu berada tetap menjadi ruang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa dan devosi kepada Maria.

Dan setiap kali seseorang datang untuk menyalakan lilin atau berlutut dalam doa, kisah panjang itu kembali hadir dalam pengalaman yang sangat pribadi.

Ratusan Kunci dan Sebuah Pintu yang Selalu Dibuka

Ada satu hal menarik pada diri Mama Oa Resiona: kunci-kunci yang dibawanya.

Ratusan kunci tampak terikat dan tergabung dalam satu ikatan, bersama kunci Kapela Tuan Ma.

Kumpulan kunci itu menjadi gambaran nyata dari tanggung jawab yang diembannya.

Namun, bukan banyaknya kunci yang membuat perannya berarti. Yang lebih penting adalah kesediaannya untuk datang ketika dibutuhkan.

Ia membuka dan menutup pintu kapela, melayani permintaan peziarah yang ingin berdoa, bahkan ketika mereka adalah orang-orang yang belum pernah dikenalnya. Selama mereka datang untuk berdoa, Mama Oa Resiona berusaha melayani.Di situlah kesetiaan itu terlihat.

Bukan melalui upacara besar atau pekerjaan yang selalu mendapat perhatian banyak orang, melainkan melalui tindakan berulang yang dilakukan dengan ketulusan.

Pintu dibuka. Peziarah masuk. Lilin dinyalakan. Doa dipanjatkan. Setelah selesai, pintu kembali ditutup.

Begitu seterusnya, dari hari ke hari.B agi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin tampak biasa. Tetapi bagi mereka yang datang membawa beban kehidupan, kesempatan untuk memasuki kapela dan berdoa bisa menjadi pengalaman yang sangat berarti.

Mama Oa Resiona memahami bahwa ia tidak harus mengetahui seluruh kisah di balik setiap kedatangan. Ia tidak perlu bertanya apa yang sedang diperjuangkan seseorang, apa yang membuatnya bersedih, atau harapan apa yang ingin disampaikannya kepada Tuhan. Ia cukup membukakan pintu. Selebihnya, setiap orang membawa doanya sendiri.

Menjaga Warisan, Merawat Harapan

Di Pohon Siri, Larantuka, rumah beratap ilalang milik Suku Resiona tetap berdiri di samping Kapela Tuan Ma. Rumah itu menyimpan kisah tentang leluhur, penemuan arca legendaris, dan perjalanan panjang sebuah tradisi iman.

Sementara itu, Mama Oa Resiona terus menjalankan tugasnya dengan langkah yang mungkin tak lagi tegap, tetapi dengan kesediaan yang tetap terjaga.

Usia boleh bertambah. Tenaga mungkin tak lagi sama. Namun, selama ia masih mampu memenuhi permintaan peziarah, pintu kapela itu akan tetap dibukanya.

Di tengah perhatian yang sering tertuju pada bangunan bersejarah, arca, dan prasasti, sosok penjaga kunci seperti Mama Oa Resiona mengingatkan bahwa warisan iman tidak hanya bertahan melalui benda-benda peninggalan masa lalu. Warisan itu juga hidup melalui orang-orang yang merawatnya setiap hari.

Rumah tua Suku Resiona menjaga jejak sejarah. Prasasti mengenang perjalanan lima abad. Kapela menjadi tempat orang-orang datang membawa doa.

Dan Mama Oa Resiona, dengan ikatan kunci di tangannya, menjaga agar pintu menuju ruang doa itu tetap terbuka bagi siapa saja yang datang dengan iman dan harapan.

Sebab, terkadang, sebuah pelayanan besar bermula dari tindakan yang sangat sederhana: membukakan pintu bagi seseorang yang ingin berdoa. (Tim). 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

X
Dapatkan Full Source Code - CMS DATAGOE