Lewoleba — STANIS Kebesa Langoday (SKL) menawarkan konsep Pertanian Presisi (Precision Agriculture) sebagai solusi strategis untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Lembata sekaligus membuka lapangan kerja dan menekan angka pengangguran, khususnya di kalangan anak muda.
Menurut Stanis, pertanian presisi merupakan sistem pengelolaan pertanian berbasis data dan teknologi modern seperti GPS, sensor, drone, serta citra satelit yang bertujuan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, air, dan benih, sekaligus memaksimalkan hasil panen.
“Saya menawarkan konsep pribadi yang sangat praktis untuk peningkatan PAD dari sektor pertanian. Tidak ribet, terukur, dan langsung berdampak,” ujar Stanis.
Potensi 2.000 Hektar Lahan Tidur
Stanis menyebutkan, terdapat sekitar 2.000 hektar lahan di wilayah Tanjung yang belum diolah secara maksimal, mulai dari Waisesa di Bagoturu hingga Tanjung Bahagia, Desa Kolipadan. Lahan ini dinilai sangat potensial untuk dikembangkan sebagai sentra pertanian jagung hibrida berbasis teknologi.
Saat ini, kata Stanis, telah hadir PT Silvano Maynard Jaya (PT SMJ) yang bergerak di bidang pertanian jagung hibrida dan siap menjadi mitra strategis pemerintah daerah.
Skema Sederhana, PAD Nyata
Ia menawarkan skema kerja sama yang dinilainya sederhana dan saling menguntungkan. Pemerintah daerah cukup menyewa 1.000 hektar lahan di wilayah Tanjung, lalu menyerahkan pengelolaan dan pendampingan teknis kepada PT SMJ.
Dengan simulasi sederhana:
Pemda menyewa lahan dari masyarakat sebesar Rp500.000 per hektar per panen.Total: Rp500 juta per panen. Pemda menyerahkan pengelolaan ke PT SMJ sebesar Rp1 juta per hektar per panen. Total: Rp1 miliar per panen.
“Maka setiap satu kali panen, Pemda berpotensi memperoleh PAD bersih Rp500 juta. Ini baru dari 1.000 hektar,” jelasnya.
Selain PAD, skema ini diyakini mampu menyerap tenaga kerja lokal sehingga pendekatan pembangunan “Bapa Pulang, Mama Senang” benar-benar terwujud. “Anak-anak muda tidak lagi keluyuran karena ada pekerjaan nyata di kampung sendiri,” tambahnya.
Bukti Lapangan Sudah Ada
Stanis menegaskan, konsep tersebut bukan sekadar wacana. Saat ini PT SMJ telah mendampingi sekitar 176 petani yang tersebar di empat kecamatan di Lembata, dengan total luasan sekitar 300 hektar untuk pengembangan Jagung Hibrida NK Sumo Sakti.
Dalam satu kali musim tanam sekitar empat bulan, petani disebut mampu meraih pendapatan signifikan.
Dengan asumsi:
Luas lahan: 1 hektar
Produksi: 6 ton jagung/hektar (jarak tanam 70x20)
Harga jual: Rp4.000/kg
Maka pendapatan kotor petani mencapai Rp24 juta per panen. Dengan biaya produksi sekitar Rp8 juta per hektar untuk benih, pupuk, obat rumput, dan tenaga kerja, petani masih memperoleh keuntungan bersih yang cukup besar.
“Empat bulan jadi petani, sekali tanam bisa dapat sekitar Rp20 jutaan lebih. Ini jauh lebih pasti dibandingkan mengurus ternak atau usaha lain yang belum tentu ada hasil,” tegas Stanis.
Ia berharap pemerintah daerah dapat melihat peluang ini secara serius sebagai terobosan baru pengelolaan pertanian modern yang bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memberikan kontribusi langsung terhadap PAD dan kesejahteraan masyarakat Lembata.
Stanis Kebesa Langoday adalah ASN dengan jabatan terakhirnya sebagai Sekretaris Dinas Kominfo Kabupaten Lembata. Ia memilih untuk pensiun dini dan kini menggeluti profesi barunya sebagai petani modern. (adabnewsteam).




Berita Terkait
Akademisi Dorong Sertifikasi Benih Lokal untuk Hadapi Krisis Air dan Perubahan Iklim di NTT
Kasie Intel Kejari Lembata Rizal Hidayat Pindah Tugas ke Kejari Bima