Akademisi Dorong Sertifikasi Benih Lokal untuk Hadapi Krisis Air dan Perubahan Iklim di NTT

photo author
- Selasa, 16 Desember 2025
Akademisi Dorong Sertifikasi Benih Lokal untuk Hadapi Krisis Air dan Perubahan Iklim di NTT
Lenny M. Moy, SP., MP., dosen Politeknik Pertanian Negeri Kupang bidang pengelolaan sumber daya air pertanian. Ia juga merupakan Koordinator Kaukus Akademisi Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) NTT, konsultan riset perubahan iklim program Siap Siaga d
Dapatkan full source code Asli


adabnews.com

Kupang — Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan karakter iklim kering menghadapi tantangan serius dalam sektor pertanian. Dengan musim kemarau yang berlangsung hingga 8–9 bulan dan curah hujan yang hanya terjadi sekitar 3–4 bulan dalam setahun, ketersediaan air menjadi faktor pembatas utama yang berpengaruh langsung terhadap produksi tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kacang-kacangan.

Hal tersebut disampaikan Lenny M. Moy, SP., MP., dosen Politeknik Pertanian Negeri Kupang bidang pengelolaan sumber daya air pertanian. Ia juga merupakan Koordinator Kaukus Akademisi Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) NTT, konsultan riset perubahan iklim program Siap Siaga dan LSM lokal, praktisi pertanian cerdas iklim, serta Tim Penulis Rencana Kontinjensi (Renkon) Kekeringan Kabupaten Lembata.

Saat diwawancarai Media ini, Senin (15/12/2025), Penulis Rencana Kontinjensi (Renkon) Kekeringan Kabupaten Lembata ini menjelaskan, perubahan iklim yang ditandai dengan curah hujan tidak menentu, bahkan hujan berlebihan pada periode tertentu, kerap menyebabkan gagal tumbuh hingga gagal panen. Kondisi ini diperparah dengan penggunaan benih yang tidak adaptif terhadap iklim kering NTT. “Keluhan masyarakat selama ini adalah benih yang digunakan tidak tahan terhadap kondisi iklim setempat,” ujarnya.

Ia menyebut, dalam kajian riset yang didanai program Siap Siaga dan melibatkan tim Kaukus Akademisi FPRB Provinsi NTT, Lenny menekankan pentingnya kembali mengembangkan tanaman lokal yang telah lama beradaptasi dengan keterbatasan air. Ia mengaku selalu mengajak masyarakat dan pemangku kepentingan untuk mengembangkan tanaman lokal sesuai karakteristik daerah masing-masing agar mampu bertahan dalam kondisi iklim ekstrem.

Ia mengungkapkan, saat hasil penelitian disajikan, Dinas Pertanian Provinsi NTT juga mengakui adanya dilema kebijakan. Di satu sisi, pemerintah daerah dituntut untuk mengejar target produksi nasional, sementara di sisi lain benih lokal dinilai belum mampu memenuhi standar produksi tersebut. “Benih hibrida memang produksinya lebih tinggi, tetapi tidak tahan disimpan lama dan tidak selalu sesuai dengan kondisi iklim lokal,” jelasnya.

Dalam Seri ke-13 Forum Belajar Bersama (Forbeta) PRB NTT, Lenny dan tim menyerukan agar setiap daerah mendorong sertifikasi benih lokal. Sertifikasi ini dinilai penting agar benih lokal dapat dikomersialkan dan digunakan secara luas oleh kelompok masyarakat tani. Namun, ia mengakui masih banyak kendala yang dihadapi, terutama terkait alur sertifikasi varietas lokal yang dinilai belum sederhana.

“Pemda sebenarnya bisa mendaftarkan kultivar lokal daerah masing-masing agar diakui secara resmi. Dengan begitu, benih lokal bisa digunakan dan didistribusikan seperti benih hibrida yang beredar luas saat ini,” katanya. Ia menambahkan, sebagai pegiat benih lokal, dirinya mendorong agar proses pengakuan dan sertifikasi varietas lokal dipermudah.

Lenny juga menyoroti masih rendahnya produksi benih lokal dalam jumlah besar. Iapun menekankan pentingnya kolaborasi pentaheliks, terutama peran akademisi dalam melakukan riset dan pengembangan, agar benih lokal mampu menggantikan ketergantungan pada benih hibrida.

“Jika benih lokal dikembangkan dengan baik dan didukung riset, maka ia bisa menjadi solusi berkelanjutan bagi pertanian NTT di tengah krisis iklim,” pungkasnya.(adabnewsteam).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

X
Dapatkan Full Source Code - CMS DATAGOE