LEWOLEBA – SEMINAR tentang Muro digelar Yayasan Bina Sejahtera (YBS) bekerjasama dengan Yayasan Plan Indonesia Lembata, menghadirkan pemerintah daerah, akademisi, pegiat lingkungan, dan masyarakat untuk membahas pelestarian ekosistem pesisir serta pengembangan wisata berbasis kearifan lokal.
Seminar diselenggarakan di Pantai Woi Pedang, Desa Riang Bao, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Kamis (23/4/2026).
Dalam pemaparannya, Kepala Cabag Dinas Kelautan Dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur Wilayah Lembata, Flotim, Sikka, Siprianus Seru, menjelaskan, di Lembata terdapat empat jenis bakau yang memiliki fungsi penting menjaga kawasan pesisir.
Selain itu, ekosistem lamun dan terumbu karang juga menjadi bagian penting dari kehidupan laut karena menjadi habitat ikan seperti baronang dan berbagai biota lainnya.
Ia juga menjelaskan jenis-jenis terumbu karang, mulai dari karang tepi yang tumbuh sepanjang pantai, karang penghalang yang berada di tengah laut, hingga atol atau karang cincin.
Menurutnya, seluruh ekosistem laut tersebut harus dijaga melalui sistem Muro sebagai bentuk konservasi tradisional masyarakat.
Setelah materi disampaikan, pemerintah membuka peluang bagi kelompok masyarakat untuk mengajukan proposal kegiatan konservasi Muro. Program itu akan difokuskan pada empat hal utama yakni kelestarian lingkungan, edukasi, keterlibatan masyarakat, dan peningkatan ekonomi warga. Pengajuan direncanakan paling lambat akhir Mei agar dapat diusulkan dalam anggaran 2027.
Kepala Dinas Pariwisata, Jak Wuwur, mengatakan Muro bukan hanya tradisi, tetapi juga identitas daerah yang bisa menjadi daya tarik wisata.
Menurutnya, wisatawan dapat menikmati keindahan laut, terumbu karang, lamun, hingga kehidupan sosial budaya masyarakat pesisir.
“Muro adalah identitas. Itu bisa menjadi daya tarik wisata dan perlu dijaga bersama,” ujarnya.
Dosen Tedi Balalawe menyoroti minimnya partisipasi peserta seminar. Ia menyebut banyak kursi kosong dan kehadiran belum representatif.
Menurutnya, pengembangan pariwisata berbasis generasi muda masih membutuhkan lebih banyak penggerak.
Ia juga menyinggung pentingnya kreativitas dan desain berpikir untuk menjawab tantangan masa depan, terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di Lembata.
Sementara itu, Bapa Goris dari Komite Muro menceritakan sejarah Muro yang telah lama dijalankan masyarakat, termasuk hubungan perdagangan tradisional antarwilayah sejak tahun 1974.
Ia menyebut inovasi pengembangan Muro kini diarahkan ke lima desa dengan dukungan jaringan anak muda.
Penyadartahuan Menyasar Anak Muda
Sementara itu, Koalisi Kopi yang diwakili Emanuel Teli Fernandez menjelaskan pihaknya aktif memberikan edukasi perubahan iklim kepada pelajar.
Mereka juga sedang mengembangkan laboratorium mangrove terbuka di kawasan Bandara Wunopito.
Di lokasi tersebut, anak-anak muda belajar menanam mangrove, meneliti kecocokan tanaman dengan kondisi wilayah, mengukur salinitas air laut, memantau pasang surut, hingga melakukan riset pertumbuhan mangrove.
“Mangrove sangat penting untuk melindungi masyarakat pesisir. Jika sejalan dengan Muro, maka ekosistem akan tetap terjaga,” katanya.
Kepala Desa Riang Bao menambahkan pengelolaan Muro membutuhkan kerja sama semua pihak. Selain ancaman terhadap bakau, lamun, dan terumbu karang, kawasan Teluk Lewoleba juga menghadapi persoalan sampah serta keterbatasan akses karena masuk wilayah konservasi taman perairan.
Enya Wahon dari Koalisi Kopi menegaskan anak-anak harus diajarkan ilmu yang kontekstual dengan kondisi daerahnya. Ia menilai generasi muda memiliki peran besar, namun tetap membutuhkan dukungan seluruh pihak.
Kelompok masyarakat pengawas (Pokwasmas) juga menyatakan siap menjadi saksi, melaporkan pelanggaran, dan ikut mengawasi kawasan konservasi Muro. (adabnewsteam).
Berita Terkait
Bank Sampah Cahaya Agate Gelar Misa Syukur, Teguhkan Semangat Pelayanan dan Kepedulian Lingkungan
Banjir dan Angin Kencang Di Ile Ape Rusak Jalan dan Ruang Kelas, BPBD Lembata Lakukan Kaji Cepat
Sinergi Pemda dan Bank NTT Perkuat Sektor Unggulan Lembata
Tarif Angkutan Ekspedisi Disepakati, Operasional Penyeberangan di Lembata Kembali Normal
Somasi Penebangan Pohon Cendana Milik Warga Masuki Tahapan Krusial
Festival MURO 2026: Merawat Pesisir, Melestarikan Budaya, untuk Masa Depan Berkelanjutan
Bupati Lembata Hadiri Ritual Muro di Desa Todanara, Tanda Dimulainya Masa Larangan Tangkap
Trend Kekerasan Terhadap Anak Meningkat, Pemkab Lembata Gandeng Tokoh Agama Perkuat Kualitas Keluarga Lewat FGD Lintas Agama
Pemda Bungkam, Satu Sampel Ayam Berulat Mengandung Bakteri Patogen Berbahaya, Satu Lagi Penuhi Standar Kesehatan
Tiket Internasional Lamaholot Festival Mulai Dijual, Pengunjung Berpeluang Dapat Sepeda Listrik