LEWOLEBA – Umat bersama keluarga besar Lingkungan Hati Kudus Yesus menggelar perayaan syukur 50 tahun imamat Pater Melkiades Kisa Tukan, SVD, sebuah peristiwa langka yang menjadi ungkapan cinta dan penghormatan atas setengah abad pengabdian sang imam bagi Gereja dan masyarakat.
Perayaan emas imamat itu diwarnai dengan pembacaan Narasi Emas Kisa A'do, refleksi perjalanan hidup dan pelayanan Pater Melkiades yang telah berkarya di berbagai wilayah, mulai dari Lembata, Manggarai selama 23 tahun, hingga Sorong, Papua Barat.
Ketua panitia, Gusti Lasar, menyebut Pater Melkiades sebagai bapak rohani yang telah membimbing dan menginspirasi banyak umat dalam kehidupan beriman.
“Melalui teladan Pater, kami belajar untuk mencintai Gereja. Beliau menjadi sosok yang mengajarkan kesederhanaan, pengabdian, dan kesetiaan dalam melayani,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Lingkungan Hati Kudus Yesus untuk menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan perayaan tersebut.
“Terima kasih atas kepercayaan kepada Lingkungan Hati Kudus Yesus. Dukungan umat yang begitu besar merupakan wujud cinta kami kepada Pater dan kepada Gereja,” kata Gusti.
Menurutnya, kebersamaan seluruh umat dalam mempersiapkan dan menyukseskan acara itu menjadi bukti kuatnya ikatan spiritual antara gembala dan umat yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Rangkaian syukuran mencapai puncaknya dengan prosesi pemotongan tumpeng emas imamat yang diawali doa serta pemberkatan oleh Pastor Paroki Santo Arnoldus Jansen Waikomo. Momen tersebut disambut penuh sukacita oleh umat dan para tamu undangan yang hadir.
Narasi Kisa A'do yang dibacakan dalam acara itu mengangkat perjalanan panjang Pater Melkiades, mulai dari asal-usul keluarga, pendidikan di seminari, hingga karya pastoralnya di berbagai daerah. Refleksi tersebut menempatkan sosoknya sebagai pembawa terang, pemersatu umat, dan pelayan bagi kaum kecil, orang sakit, serta mereka yang berada di pinggiran kehidupan sosial.
Lima puluh tahun imamat Pater Melkiades Kisa Tukan, SVD, menjadi momentum langka yang tidak hanya dirayakan sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga sebagai syukur bersama atas kesetiaan seorang imam yang mengabdikan hidupnya bagi Tuhan dan sesama.
“Ad multos annos, semoga Tuhan terus memberkati Pater sepanjang hayat dan menganugerahkan kesehatan serta sukacita dalam melanjutkan panggilan hidupnya,” demikian doa dan harapan yang mengalir dari umat pada perayaan emas imamat tersebut.
Senandung Rindu dan Catatan Reflektif
Perayaan 50 tahun imamat Pater Melkiades Kisa Tukan, SVD, Jumat (3/7/2026), diwarnai pembacaan narasi reflektif bertajuk “Lewo Ami Nare Lamatuka”, sebuah senandung rindu yang mengingat kampung halaman sang yubilaris sebelum bencana tsunami Waiteba-Bobu tahun 1979.
Narasi tersebut dipersembahkan oleh Felix Beda Tukan, adik sepupu dari sang yubilaris, untuk merawat ingatan sekaligus memeriahkan Emas Imamat Pater Melkiades Kisa Tukan, SVD. Lagu yang mengiringi refleksi itu merupakan karya almarhum Karolus Kalesar Lengary, sementara catatan reflektif ditulis oleh Felix Beda Tukan.
Dalam narasi berjudul “Kisa A’ddo”, perjalanan hidup Pater Melkiades ditelusuri mulai dari silsilah keluarga hingga pengabdiannya sebagai imam Serikat Sabda Allah (SVD). Ia disebut sebagai generasi keempat dari garis keturunan Selle dan Bae, dua leluhur yang menjadi bagian penting dalam sejarah keluarga besar Kisa.
Riwayat pendidikan dan pelayanannya juga diangkat dalam refleksi tersebut. Pater Melkiades mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat Besei, melanjutkan ke Seminari Hokeng, kemudian belajar filsafat dan teologi di Ledalero. Ia juga mengikuti kursus spiritual di Los Banos, Manila, Filipina, serta mendalami pendampingan novis dan pelayanan bagi para imam lanjut usia di Roma.
Jejak pelayanannya terbentang di berbagai daerah, mulai dari Hokeng, Borong, Reo, Rangga, Nunang, hingga Ruteng di Manggarai. Ia pernah menjadi formator di Bruderan Santo Konradus Ende, pastor di Paroki Santo Arnoldus Yansen Malanu, Sorong, Fakfak, serta mengajar Bahasa Latin di Seminari Santo Petrus Fandipeen, Papua Barat.
Narasi tersebut menggambarkan Pater Melkiades sebagai sosok pembawa terang bagi keluarga dan masyarakat. Melalui tahbisan yang diterimanya dari Mgr. Vitalis Djebarus, SVD, ia disebut menghadirkan perdamaian, mengakhiri perselisihan antar-kelompok, mempererat persaudaraan, dan melayani kaum kecil, orang sakit, para lansia, serta yatim piatu.
Refleksi itu juga menekankan makna imamat sebagai jalan pengabdian yang menyelamatkan dan meneguhkan kehidupan umat melalui pelayanan ekaristi, baptisan, absolusi, serta sakramen-sakramen Gereja.
Pada bagian akhir, penghormatan diberikan atas kesaksian hidup sederhana yang dijalani Pater Melkiades selama lima dekade imamatnya. Ia dipuji karena komitmen, disiplin, konsistensi menolak kemunafikan, integritas hidup, serta kesetiaan menjalani hidup selibat hingga akhir hayat pelayanannya.
"Selamat menggapai emas imamat dan menanti intan imamat. Tuhan memeluk dan menggendongmu selalu. Amin," demikian penggalan penutup narasi tersebut.
Acara refleksi kemudian ditutup dengan lagu “Maria Ratu Para Imam” yang dinyanyikan bersama seluruh undangan sebagai ungkapan syukur atas 50 tahun pengabdian Pater Melkiades Kisa Tukan, SVD, dalam melayani Gereja dan masyarakat.(ADABNEWSTEAM).
Berita Terkait
Pemda Bungkam, Satu Sampel Ayam Berulat Mengandung Bakteri Patogen Berbahaya, Satu Lagi Penuhi Standar Kesehatan
Wisatawan Domestik dan Mancanegara Ikuti Post Tour Festival Internasional Lamaholot di Desa Muruona
Pohon Cendana Berusia 14 Tahun Dipotong Petugas, Warga Tuntut PLN Ganti Rugi
MBG Sedot Angaran Jumbo, DPRD Soroti Banyak Sekolah Rusak di Lembata
Bupati Lembata: Diaspora Adalah Jembatan Pemasaran UMKM, Pangan, Dan Hasil Laut NTT
Pemkab Lembata Gelar Lembata Fishing Tournament 2026, Perebutkan Piala Bupati dan Hadiah Ratusan Juta Rupiah
Dana Non-Earmark Belum Cair, Penyerapan Anggaran di 83 Desa di Lembata Terhambat
Banjir dan Angin Kencang Di Ile Ape Rusak Jalan dan Ruang Kelas, BPBD Lembata Lakukan Kaji Cepat
Kapolres Lembata: Media Perlu Dibekali Pengetahuan SOP Penanganan Kasus Hukum
Tiket Internasional Lamaholot Festival Mulai Dijual, Pengunjung Berpeluang Dapat Sepeda Listrik