PADMA Indonesia (Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian Indonesia) mendesak Pemerintah Kabupaten Ngada dan DPRD Ngada, Nusa Tenggara Timur, untuk mengambil langkah tegas dalam mendorong autopsi forensik terhadap almarhum YBR, setelah kematian tragis pemuda tersebut memantik perhatian luas publik, termasuk simpati dari Presiden RI Prabowo Subianto dan Gubernur NTT Melky Lakalena.
Kasus ini menjadi sorotan nasional akibat publikasi media dan media sosial yang menyoroti dugaan ketidaktuntasan proses penyelidikan.
Polres Ngada Disorot
PADMA Indonesia menilai penghentian penyelidikan oleh Polres Ngada memunculkan tanda tanya besar mengenai keseriusan investigasi, terutama dalam aspek forensik.
Ia menegaskan publik ikut mengawasi apakah penyelidikan benar-benar dilakukan dengan pendekatan investigatif dan melibatkan ahli forensik berkompeten.
Pemkab dan DPRD Ngada Diminta Tidak Diam
PADMA Indonesia juga mengkritik sikap Pemkab dan DPRD Ngada yang dinilai pasif dan belum menunjukkan langkah konkret mendukung proses pengungkapan penyebab kematian YBR.
Organisasi tersebut mempertanyakan komitmen lembaga-lembaga tersebut sebagai wakil rakyat.
Desakan Autopsi Forensik Melibatkan Ahli UI
PADMA Indonesia mendorong dilakukan autopsi forensik melalui ahli dari Fakultas Kedokteran UI. Proses ini diharapkan difasilitasi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada dan Direktur RSUD Bajawa, sehingga memberikan dasar hukum kuat bagi aparat penegak hukum dalam menentukan kelanjutan penanganan kasus.
Selain itu, PADMA Indonesia juga menekankan pentingnya pengujian surat yang diduga ditulis almarhum YBR melalui Laboratorium Forensik Mabes Polri.
Seruan Solidaritas Nasional
PADMA Indonesia mengajak semua pihak, termasuk Bapa Uskup Agung Ende, tokoh masyarakat Ngada, tokoh nasional, serta insan pers, untuk memberikan dukungan penuh terhadap upaya pengungkapan kasus ini secara profesional dan komprehensif.
Dukungan moral dan spiritual juga dimohonkan kepada leluhur Ngada serta Tuhan Yesus.
Pernyataan Resmi PADMA Indonesia
Gabriel Goa, Ketua Dewan Pembina PADMA Indonesia, menyampaikan empat poin sikap resmi:
Belasungkawa kepada keluarga korban dan permohonan agar kebenaran penyebab kematian segera terungkap.
Desakan kepada Bupati, Wakil Bupati, dan DPRD Ngada untuk bersama keluarga meminta Kapolri melalui Kapolda NTT melakukan autopsi forensik oleh ahli Fakultas Kedokteran UI dan uji forensik surat di Mabes Polri.
Ajak solidaritas berbagai pihak, termasuk tokoh agama dan masyarakat, demi penyelidikan profesional melibatkan ahli forensik dan laboratorium forensik.
Doa dan permohonan restu leluhur, agar proses pencarian kebenaran berjalan terang-benderang.
“Dewa Beka! Jaga Waka Ngada, Jaga Waka Ana YBR,” tutup Gabriel Goa dalam seruannya yang penuh keprihatinan. (adabnewsteam).




Berikan Komentar