ADABNEWS.COM
BUYASURI, LEMBATA — Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, di sebuah wilayah yang kehidupan warganya lekat dengan tanah, kebun dan perjuangan sehari-hari, sebuah kerinduan akhirnya menemukan bentuknya. Kerinduan itu bernama Kapela Santo Laurensius Buangbuto.
Sabtu, 15 Agustus 2026, menjadi hari yang sulit dilupakan umat di wilayah Buangbuto, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata. Setelah bertahun-tahun bergulat dengan keterbatasan, umat akhirnya menyaksikan rumah ibadah yang mereka impikan berdiri kokoh dan diresmikan.
Bukan sekadar bangunan
Kapela itu adalah jejak panjang doa, gotong royong, air mata, pengorbanan dan kemurahan hati banyak orang.
Rangkaian peresmian diawali dengan prosesi adat. Para undangan disambut melalui tarian pengantar, pengalungan tanda kehormatan, sapaan adat hingga pemotongan pita di gerbang kapela.
Sesudah itu, suasana berubah menjadi lebih khidmat. Perayaan Ekaristi pemberkatan kapela dipimpin enam imam: Romo Blasius Masang Kleden, Romo Sinyo Da Gomez, Romo Emanuel Kewa Ama, Romo Gabriel Unto da Silva, Romo Antonius Kia Uba dan Pater Anis, SVD.
Lantunan lagu rohani dari paduan suara SMA Don Bosco Lewoleba mengiringi perayaan. Di tengah suasana itu, umat seolah sedang merayakan bukan hanya berdirinya sebuah bangunan, tetapi juga kemenangan kecil dari sebuah perjuangan panjang.
Dari doa sederhana menjadi rumah Tuhan
Bagi Frater Benyamin Tunggu, CMM, putra Desa Biarwala yang menjadi salah satu penggagas pembangunan kapela, kisah ini sesungguhnya telah dimulai sejak masa kecil.
Ia masih mengingat bagaimana umat Buangbuto merawat kehidupan iman dengan segala keterbatasan. Setiap Minggu mereka berdoa di ebang. Ketika belum memiliki rumah ibadah, umat tetap datang, berkumpul dan menjaga persekutuan.
Bahkan, sebagaimana dikenang oleh Ibu Linda, salah seorang donatur, umat pernah berdoa dan bernyanyi di bawah pohon asam. Kondisi itu tidak membuat iman mereka padam.
Justru dari keterbatasan itulah lahir sebuah mimpi: suatu hari nanti umat Buangbuto memiliki rumah Tuhan sendiri.
“Saya kagum dengan iman umat di sini. Saya berdoa agar Tuhan menjadikan saya perantara bagi umat membangun rumah ibadah di tempat ini dan Tuhan dengan kebesarannya menjawab doa dan harapan kami,” tutur Frater Benyamin.
Doa itu kemudian menemukan jalannya. Pada 24 Maret 2023, peletakan batu pertama pembangunan Kapela Santo Laurensius dilakukan oleh Romo Antonius Kia Uba, Pr.
Namun membangun rumah ibadah di tempat yang jauh dari pusat keramaian bukan perkara mudah. Keterbatasan menjadi bagian dari perjalanan.
Pembangunan berjalan perlahan, mengikuti kemampuan umat dan dukungan yang datang. Empat tahun kemudian, perjuangan itu akhirnya mencapai garis akhir.
Kapela Berdiri, Bukan hanya semen dan batu. Bagi Ibu Linda, donatur yang ikut membantu menggalang dukungan pembangunan kapela, bangunan itu tidak semata-mata tersusun dari batu, semen dan material bangunan.
Ada doa yang ikut menjadi fondasinya
“Ada banyak doa dari Eropa dan Indonesia,” katanya. Ada pula keringat dan air mata.
Linda bahkan tak kuasa menahan haru ketika mengenang perjuangan umat. Para ibu yang sudah lanjut usia ikut mengumpulkan batu. Para orang tua turut bekerja. Mereka melakukan apa yang bisa dilakukan, dengan tenaga yang mereka miliki.
Semua demi satu tujuan: menghadirkan rumah Tuhan di tengah komunitas mereka.
Linangan air mata Linda menjadi gambaran betapa panjang perjalanan itu.
“Dengan kapela ini tidak perlu lagi kalian berdoa dan bernyanyi di bawah pohon asam,” ujarnya. Kalimat sederhana itu menyimpan cerita yang panjang.
Sebab bagi masyarakat yang selama bertahun-tahun beribadah dalam keterbatasan, kapela bukan sekadar tempat berlindung dari panas dan hujan.
Ia adalah ruang untuk berkumpul, berdoa, mendidik iman anak-anak, merawat persaudaraan dan merayakan kehidupan.
Kekuatan dari banyak tangan
Kapela Santo Laurensius tidak lahir dari kerja satu orang. Ia lahir dari banyak tangan.
Frater Benyamin menyampaikan apresiasi kepada Mr. John Deraiter dan Ibu Linda yang membantu umat Buangbuto melalui dukungan dan penggalangan donasi.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para imam, biarawati dari berbagai kongregasi, pemerintah, para dermawan serta umat dari berbagai stasi yang ikut memberikan dukungan.
Di antaranya umat Stasi Santo Paulus Biarwala, Santa Elisabet Buriwutun, Santo Petrus Umaleu, Santo Antonius Padua Aihua, Santo Yakobus Leuburi dan Santo Yusup Leudawan.
Mereka datang dari tempat yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh satu semangat: membantu menghadirkan rumah ibadah bagi umat Buangbuto. Di situlah kekuatan sebuah komunitas terlihat.
Sebuah bangunan yang tampak kokoh ternyata dibangun oleh sesuatu yang jauh lebih kuat: persaudaraan.
Rumah persaudaraan
Ketua panitia peresmian, Anjelina Lonek, mengatakan Kapela Santo Laurensius dibangun dari kerinduan umat.
Karena itu, ia berharap kapela tersebut tidak berhenti sebagai bangunan fisik. Kapela harus menjadi rumah persaudaraan, rumah pewartaan dan tempat iman umat terus bertumbuh.
Harapan serupa disampaikan Romo Sinyo Da Gomez dalam homili Misa syukur pemberkatan kapela.
Mengutip Injil tentang Yesus yang berkata, “Biarkan anak-anak datang kepada-Ku”, Romo Sinyo mengajak umat melihat kapela sebagai ruang untuk membangun persekutuan dengan Kristus.
“Ini rumah Tuhan, tempat kita berdoa, merayakan persekutuan dengan Kristus. Hendaknya kita mencintai kapela ini dengan menjaga dan merawat kapela ini dengan baik agar dari kapela ini berkat melimpah bagi umat, tempat ini dan tanah ini,” katanya.
Pesan itu sekaligus menjadi tanggung jawab baru bagi umat.
Setelah bertahun-tahun berjuang untuk mendirikannya, tantangan berikutnya adalah merawatnya.
Bukan hanya merawat dinding dan atap, tetapi juga merawat semangat persatuan yang melahirkan kapela tersebut.
Donasi yang menyeberangi jarak
Kisah pembangunan Kapela Santo Laurensius juga menunjukkan bahwa kebaikan tidak mengenal jarak.
Dukungan datang dari Indonesia dan Eropa. Ada mereka yang hadir secara langsung, ada pula yang mungkin tidak pernah menginjakkan kaki di Buangbuto, tetapi ikut menjadi bagian dari perjuangan melalui donasi.
Mr. John Deraiter dan Ibu Linda menjadi bagian penting dari mata rantai kebaikan itu. Apa yang mereka lakukan kemudian bertemu dengan tenaga umat di kampung.
Donasi bertemu gotong royong. Doa bertemu kerja keras.
Harapan bertemu ketekunan. Dan semuanya bermuara pada sebuah bangunan yang kini menjadi milik bersama.
Pemerintah melihat sebuah kekuatan sosial
Camat Buyasuri, Luis Ladjar yang hadir mewakili pemerintah daerah menyampaikan apresiasi kepada para donatur, para imam, pastor paroki dan semua pihak yang telah bergerak menghadirkan kapela.
Menurutnya, kehadiran gereja memiliki peran penting dalam membina iman umat di Kecamatan Buyasuri.
Pemerintah berterima kasih karena gereja hadir dan terus mengambil bagian dalam pembinaan kehidupan masyarakat.
Peresmian tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh dan pejabat, di antaranya Gregorius Amo, mantan anggota DPRD Lembata; Sani Rimba Raya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup; Emanuel Ubuq, anggota DPRD Lembata; serta para biarawati dari sejumlah kongregasi.
Sebuah pelajaran dari Buangbuto
Kapela Santo Laurensius Buangbuto pada akhirnya bukan hanya cerita tentang sebuah bangunan yang selesai setelah empat tahun.
Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah komunitas mempertahankan harapan.
Tentang umat yang tetap berdoa meski belum memiliki tempat ibadah.
Tentang para ibu yang mengumpulkan batu.
Tentang orang-orang yang bekerja dengan kemampuan seadanya.
Tentang seorang frater yang menyimpan kenangan masa kecil dan kemudian menjadikannya sebuah doa.
Tentang donatur yang mengulurkan tangan dari tempat yang jauh. Dan tentang doa-doa yang akhirnya menemukan jawabannya.
Kini, kapela itu berdiri di tengah masyarakat. Namun kisahnya belum selesai.
Frater Benyamin berharap umat dari Retuopo, Buangwutu, Beniteban, Pae, Weila'a, Koko, Pahang dan wilayah sekitarnya dapat bersama-sama memanfaatkan kapela tersebut.
“Mari kita merawat kebersamaan dan persatuan umat agar jadi berkat bersama,” katanya.
Pesan itu mungkin menjadi makna paling dalam dari berdirinya Kapela Santo Laurensius.
Sebab rumah Tuhan tidak hanya dibangun untuk menjadi tempat manusia menghadap Tuhan. Ia juga dibangun agar manusia kembali saling menemukan.
Di Buangbuto, sebuah kapela lahir dari kerinduan yang panjang. Dari bawah pohon asam, dari doa-doa sederhana, dari tangan-tangan yang mengumpulkan batu, akhirnya berdiri sebuah rumah Tuhan.
Dan dari rumah kecil itu, umat berharap lahir sesuatu yang jauh lebih besar:
iman yang bertumbuh, persaudaraan yang semakin kuat dan berkat yang mengalir bagi seluruh masyarakat. (Tim).
Berita Terkait
Bupati Lembata Ajak Masyarakat Bersatu dan Bersinergi Bangun Lembata Maju, Lestari, dan Berdaya Saing
Riwayat Hidup RD. Marianus Hali Wuwur: Panggilan Imam Muda yang Berakhir Terlalu Cepat
Isak Tangis Ribuan Umat Iringi Pemakaman Romo Marno di Lewoleba
Deken Lembata Pimpin Misa Pemakaman Romo Marno, Sekjen Keuskupan Larantuka Sebut Salib Jadi Jalan Pulang ke Lewotanah Abadi
Lidi Di Pesta Itu Ternyata Bukan Tusuk Gigi
PLN UIP Nusra Gelar Musyawarah Ganti Kerugian Tanah PLTP Ulumbu 5-6, Libatkan 281 Warga Pemilik Tanah
Pemda Lembata Ajukan Pembukaan Trayek Penerbangan Labuan Bajo–Ende–Lembata
Gempa Magnitudo 1,8 Guncang Tenggara Lembata NTT