Oleh: Thomas A. Sogen
HAMPIR semua acara diakhiri dengan resepsi alias makan bersama meskipun dengan emel²: resepsi sederhana.
Di urusan makan, apalagi dalam acara-acara resmi keluarga misalnya, tuan rumah/pesta kadang menyiapkan juga tusuk gigi yang sudah dirangkai dengan selembar tisu untuk membersihkan tangan dan atau mulut.
Nah, tusuk gigi digunakan untuk membersihkan gigi dari sisa-sisa makan yang tersisip di gigi. Biasanya pada orang yang giginya bermasalah.
Ada sebuah pengalaman menarik ketika mengikuti sebuah acara keluarga kemarin di bilangan Penfui Kota Kupang. Syukuran tahbisan imam dan misa perdana RD Agustinus R. Wenger.
Memang di sana tuan pesta tidak menyiapkan tusuk gigi dan tisu. Namun menjelang akhir santap malam ada anak-anak seusia SD yang berjalan semacam mengedarkan/membagi lidi.
Saya dan beberapa tamu terdekat meminta (karena memang kami membutuhkan tusuk gigi untuk urusan setekah makan. 🤣🤣) Dan sang anak pun memberi. Kami meminta karena mengira itu adalah tusuk gigi.
Semula saya merasa agak aneh karena ukurannya koq tidak lazim. Seperti kepanjangan (seukuran jari pelunjuk), apalagi lidi utuh. Kami lalu mematahkan lidi tersebut dan digunakan sebagaimana mestinya.
Di pelataran tenda dengan dipandu oleh MC yang adalah Pastor Paroki St. Stefanus Noehaen, RD Yohanes Eudes Nofu, sang yubilaris sudah dipakaikan pakaian adat kebesaran Timor Amarasi oleh para orang tua dari Noehaen Amarasi Timur Kabupaten Kupang. Sebuah lagu daerah etnis Amarasi diputar dan benar-benar membahana di seantero arena pesta.
Para tamu sontak berdiri dan beramai-ramai menari mengitari sang yubilaris, termasuk Camat dan Kapolsek Amarasi Timur. Sambil menari dan bersuka ria, masing-masing orang menancapkan lidi yang sudah diselip-jepitkan dengan lembaran uang 50 atau 100 ribu ke kain ikat kepala sang yubilaris.
Saya dan sejumlah tamu yang menyaksikan dari belakang cuma bisa senyum senyam dan perlahan menyadari kalau gepokan lidi yang disodorkan tadi ternyata mempunyai fungsi sesungguhnya yang ini: menjepit uang lalu diselipkan di kepala orang yang dipestakan. Bukan untuk tusuk gigi. 🤣🤣🤣 Perlu lagi mempelajari tradisi lokal dan nilai-nilaj yang terkandung di dalamnya.
Terimakasih RD Eus Nofu dan proficiat RD Gusti Wenger. ***)




Berita Terkait
PLN UIP Nusra Gelar Musyawarah Ganti Kerugian Tanah PLTP Ulumbu 5-6, Libatkan 281 Warga Pemilik Tanah
Bupati Lembata Ajak Masyarakat Bersatu dan Bersinergi Bangun Lembata Maju, Lestari, dan Berdaya Saing
Riwayat Hidup RD. Marianus Hali Wuwur: Panggilan Imam Muda yang Berakhir Terlalu Cepat
Deken Lembata Pimpin Misa Pemakaman Romo Marno, Sekjen Keuskupan Larantuka Sebut Salib Jadi Jalan Pulang ke Lewotanah Abadi
Gempa Magnitudo 1,8 Guncang Tenggara Lembata NTT
Isak Tangis Ribuan Umat Iringi Pemakaman Romo Marno di Lewoleba
Pemda Lembata Ajukan Pembukaan Trayek Penerbangan Labuan Bajo–Ende–Lembata