Deken Lembata Pimpin Misa Pemakaman Romo Marno, Sekjen Keuskupan Larantuka Sebut Salib Jadi Jalan Pulang ke Lewotanah Abadi

photo author
- Selasa, 27 Januari 2026
Deken Lembata Pimpin Misa Pemakaman Romo Marno, Sekjen Keuskupan Larantuka Sebut Salib Jadi Jalan Pulang ke Lewotanah Abadi
Suasana Misa Pemakaman RD Marianus Hali Wuwur
Dapatkan full source code Asli

LEWOLEBA – Suasana duka menyelimuti Kapela Santo Damian, Lewoleba, Selasa (27/1/2026), saat Misa Pemakaman almarhum RD. Marianus Hali Wuwur (Romo Marno) digelar dengan khidmat. 

Ratusan imam hadir sebagai konselebran dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Deken Lembata, RD. Sinyo Da Gomes. 

Tampak Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq serta jajaran Forkopimda Lembata menghadiri Misa pemakaman.  Sementara diluar kapela takpak ribuan umat menghadiri misa pemakaman pastor belia yang baru 3 bulan menjalani imamatnya. 

Dalam homilinya, Romo Sekretaris Jenderal Keuskupan Larantuka, RD. Ancis Kwaelaga, mengajak umat memaknai wafatnya Romo Marno sebagai sebuah “pintu masuk menuju lewotanah yang diberikan Tuhan sendiri.”

Menurut RD. Ancis, salib yang dipanggul Romo Marno sepanjang hidup imamatnya merupakan tanda ajakan untuk pulang kampung, bukan sekadar kembali secara fisik, tetapi pulang ke nilai-nilai luhur lewotanah—tanah kehidupan yang sarat kearifan budaya dan makna rohani.

“Ini bukan seperti Kleopas yang pulang ke Emaus, atau kita manusia pulang dari rantau. Ini adalah perjalanan pulang dari rantau kehidupan menuju lewotanah, tempat nilai-nilai kehidupan rumah tangga dan budaya yang mulai terkikis oleh zaman kembali dihidupi,” ungkap RD. Ancis.

Ia menegaskan bahwa Sabda Tuhan atau koda saja tidaklah cukup bila tidak dihayati dalam kehidupan nyata. Seperti kisah para murid Emaus, mata mereka baru terbuka saat Yesus memecah roti. Demikian pula umat, iman tidak berhenti pada kata-kata, tetapi menemukan kepenuhannya dalam Ekaristi dan pengalaman hidup bersama.

“Tidak cukup hanya koda, tidak cukup lewat cerita dan simbol. Mata kita terbuka saat kita mengalami sendiri, dalam Ekaristi, dalam persekutuan hidup—rie hiku rie wana,” tambahnya.

RD. Ancis juga menyinggung warisan para leluhur yang telah mengajarkan bahwa kekuatan sejati ada pada keberanian untuk pulang dan berjalan bersama menuju “Yerusalem abadi” yang dicita-citakan Romo Marno—sebuah kehidupan dalam persekutuan yang menjadi penuntun arah masa depan.

Di tengah dukacita, umat diajak untuk menangkap nilai dari sebuah hidup yang bermakna. “Apa pun tantangan hidup, kekuatan itu yang membuat kita terus melangkah maju. Romo Marno telah memberi makna. Hidup harus menjadi makna,” tegasnya.

Menutup homili, RD. Ancis mengajak umat Keuskupan Larantuka untuk terus mendoakan almarhum serta belajar tidak menolak salib kehidupan. 

“Justru dari salib itulah kita mendambakan lewotanah yang sejati, lewotanah yang dicita-citakan,” pungkasnya.

Pemakaman RD. Marianus Hali Wuwur menjadi momen refleksi iman, budaya, dan panggilan hidup bagi umat yang hadir, meninggalkan pesan bahwa perjalanan iman adalah perjalanan pulang—menuju Tuhan dan makna hidup yang sejati. 

Romo Marianus Hali Wuwur dilahirkan di Lewopenutung, 1 September 1997, Ia menghembuskan napas terakhir pada 25 Januari 2026 di RSUD Lewoleba. Pastor muda belia ini dikebumikan di pemakaman Imam di Kompleks biara St.Damian, Lewoleba. (adabnewsteam). 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

X
Dapatkan Full Source Code - CMS DATAGOE