LEWOLEBA – Keuskupan Larantuka berduka atas wafatnya imam muda, RD. Marianus Hali Wuwur, atau yang akrab disapa Romo Marno. Meski usia imamatnya baru sekitar tiga bulan, perjalanan hidup dan panggilannya meninggalkan kesaksian iman yang mendalam bagi Gereja dan umat.
Romo Marno lahir di Lewopenuting pada 1 September 1997. Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara yang tumbuh dalam keluarga sederhana. Masa kecilnya dihabiskan di kampung halaman Lewopenuting, tempat ia mulai menapaki pendidikan sejak TKK pada tahun 2002.
Pendidikan menengah pertama ditempuhnya di SMPK APIS Lamalera, yang diselesaikan pada tahun 2012. Pada tahun yang sama, benih panggilan imamat mulai tumbuh dalam dirinya.
Ia kemudian menjalani masa pembinaan calon imam di Sandominggo Hokeng dari 2012 hingga 2016, sebelum secara resmi melamar sebagai calon imam Keuskupan Larantuka.
Langkah penting dalam perjalanan panggilannya terjadi pada 21 Mei 2017, saat ia diterima sebagai frater dan menerima jubah frater di Ritapiret.
Proses pembinaan berlanjut hingga ia menyelesaikan studi filsafat dan teologi di STFK Ledalero pada tahun 2021.
Pada tahun 2023, Romo Marno menjalani masa praktik pastoral di SMK Santo Darius, Weri, Larantuka.
Selanjutnya, ia melanjutkan studi S2 di STP Santo Petrus Ritapiret, yang diselesaikannya pada tahun 2025.
Ia ditahbiskan sebagai diakon dan menjalani pelayanan di Lodoblolong. Puncak perjalanan panggilannya terjadi pada 8 Juni 2025, saat ia ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Denpasar di Ritapiret, kemudian merayakan tahbisan imamat di kampung halamannya, Lewopenuting, dengan perayaan yang sarat makna dan refleksi iman bertema “Apakah engkau orang asing?”
Namun, perjalanan imamat Romo Marno diwarnai pergulatan kesehatan. Saat menjalani praktik diakonat, ia mulai mengalami batuk berkepanjangan pada 26 Juni 2025.
Kondisinya tak kunjung membaik hingga ia meminta untuk dijemput pada 6 September 2025. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan ia menderita radang paru-paru (pneumonia).
Meski sempat membaik dengan pengobatan rutin dan tetap mengikuti retret tahbisan imam, kondisi kesehatannya kembali menurun.
Setelah tahbisan, ia tetap menjalani kontrol kesehatan secara berkala. Pada 20 Desember 2025, batuk berkepanjangan kembali menyerang. Ia sempat dirawat di Rumah Sakit Damian, sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Lewoleba karena fungsi paru-parunya tidak normal dan harus dibantu dengan ventilator.
Pada 16 Januari 2026, Romo Marno menjalani tindakan operasi. Sehari kemudian, 17 Januari 2026, kondisinya sempat menunjukkan perbaikan. Namun, pada malam 24 Januari 2026, kesehatannya kembali menurun drastis.
Akhirnya, pada 25 Januari 2026, RD. Marianus Hali Wuwur menghembuskan napas terakhirnya, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, umat, dan seluruh jajaran Keuskupan Larantuka.
Diketahui, Bapa Uskup juga mengalami pergulatan batin saat mengambil keputusan untuk menahbiskan Romo Marno, mengingat kondisi kesehatannya. Namun, tahbisan itu menjadi kesaksian iman akan totalitas penyerahan diri seorang imam muda kepada Tuhan dan Gereja-Nya.
Meski singkat, hidup dan imamat Romo Marno menjadi teladan tentang kesetiaan pada panggilan hingga akhir, serta pengabdian tanpa syarat bagi Gereja dan umat. (adabnewsteam).




Berita Terkait
Deken Lembata Pimpin Misa Pemakaman Romo Marno, Sekjen Keuskupan Larantuka Sebut Salib Jadi Jalan Pulang ke Lewotanah Abadi
Lidi Di Pesta Itu Ternyata Bukan Tusuk Gigi
Gempa Magnitudo 1,8 Guncang Tenggara Lembata NTT
PLN UIP Nusra Gelar Musyawarah Ganti Kerugian Tanah PLTP Ulumbu 5-6, Libatkan 281 Warga Pemilik Tanah
Bupati Lembata Ajak Masyarakat Bersatu dan Bersinergi Bangun Lembata Maju, Lestari, dan Berdaya Saing
Isak Tangis Ribuan Umat Iringi Pemakaman Romo Marno di Lewoleba
Pemda Lembata Ajukan Pembukaan Trayek Penerbangan Labuan Bajo–Ende–Lembata