LEWOLEBA, AdabNews — Pemerintah Kabupaten Lembata menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Otonomi Lembata ke-26 yang berlangsung khidmat di Alun-Alun Timur Kota Lewoleba. Dalam sambutannya, Bupati Lembata menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta penghargaan kepada seluruh tokoh pendiri dan pejuang Otonomi Kabupaten Lembata yang telah berjasa membangun daerah sejak masa perjuangan hingga saat ini.
“Di hari yang istimewa ini, patut kita sampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada para tokoh pencetus dan pejuang Otonomi Kabupaten Lembata, para penjasa, serta para mantan pemimpin pemerintahan yang telah memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah ini,” ujar Bupati.
Refleksi 26 Tahun Perjalanan Otonomi
Bupati menegaskan, peringatan HUT ke-26 ini bukan sekadar seremoni, tetapi momentum refleksi atas perjalanan pembangunan selama 26 tahun, sekaligus evaluasi terhadap capaian dan tantangan yang masih dihadapi.
“Masa lalu adalah fondasi yang sangat bernilai dalam merancang masa depan Lembata. Karena itu, mari jadikan momentum ini untuk mengenang, mengevaluasi, sekaligus memperkuat tekad membangun Lembata yang lebih baik,” tegasnya.
Tema HUT ke-26: Bersatu dan Bersinergi Membangun Lembata
Tahun ini, perayaan HUT Otonomi Lembata mengusung tema “Bersatu dan Bersinergi Membangun Lembata Maju, Lestari, dan Berdaya Saing.”
Tema ini, kata Bupati, mengandung semangat untuk memperkokoh persatuan dan kolaborasi antar seluruh elemen masyarakat demi kemajuan bersama. “Kita membangun Kabupaten Lembata dengan kekuatan kita sendiri — kekuatan rakyat Lembata yang dirangkum dalam Program Prioritas Unggulan Nelayan-Tani-Ternak (NTT),” ungkapnya.
Rangkaian Capaian dan Prestasi Daerah
Dalam kurun waktu 26 tahun, Kabupaten Lembata telah mencatat berbagai capaian penting, antara lain:
-
Reformasi Birokrasi: Akuntabilitas kinerja meningkat dari predikat CC ke B serta menempati posisi kedua se-Provinsi NTT setelah Kota Kupang.
-
Opini WTP: Pemerintah Kabupaten berhasil mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) sebanyak 5 kali berturut-turut.
-
Kesehatan: Lembata berhasil mengeliminasi penyakit Frambusia dan mendapat sertifikat bebas Frambusia dari Kementerian Kesehatan RI.
-
Prestasi Nasional: Anak Lembata, Margareta Bengan dari SDI Lite, terpilih mewakili Provinsi NTT di Festival Literasi Perpusnas 2025 kategori Lomba Bertutur.
-
Kebudayaan: Alat musik tradisional “Tatong” resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 10 Oktober 2025.
Implementasi Program Prioritas Nelayan-Tani-Ternak
Sebagai bagian dari visi Lembata Maju, Lestari, dan Berdaya Saing 2025–2029, Pemerintah Daerah juga tengah menjalankan berbagai program unggulan di sektor peternakan, pertanian, dan perikanan.
Di sektor peternakan, pemerintah membangun Bukit Hog, Rumah Potong Unggas, serta laboratorium kesehatan hewan, dan mengembangkan program ayam petelur di berbagai desa.
Di sektor pertanian, dilakukan cetak sawah baru, pengembangan bawang merah, serta pembangunan pusat jajanan lokal.
Di sektor perikanan, pemerintah memberikan bantuan kapal, alat tangkap, pelatihan nelayan, hingga pengembangan Kampung Budidaya Merah Putih di Desa Babokeroang.
Selain itu, berbagai program sosial dan pemberdayaan juga dijalankan, seperti penyaluran cadangan pangan daerah, pengembangan UMKM Tenun Ikat, bantuan rumah ibadah lintas agama, hingga pencanangan Lembata Bebas Rabies Tahun 2030.
Ajak Warga Terus Bersatu dan Berinovasi
Di akhir sambutannya, Bupati mengajak seluruh masyarakat untuk terus bersatu, bekerja sama, dan berinovasi dalam membangun Lembata. “Capaian yang kita raih jangan membuat kita berpuas diri. Jadikan semua itu tantangan baru untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan pelayanan bagi masyarakat,” pesannya.
Bupati juga mengutip pesan leluhur Lembata yang sarat makna persatuan dari dua tokoh sejarah, Petrus Gute Betekeneng dan Mas Abdulsalam Sarabiti, yang menekankan pentingnya menjaga persaudaraan dan keutuhan masyarakat Lembata.
“Rakyat Lomblen harus bersatu, karena rakyat Lomblen adalah satu mendiami satu pulau yang dikelilingi laut. Terkutuklah orang yang menyebabkan perpecahan,” kutip Bupati dari pesan leluhur.
“Kita harus saling menghormati, menghargai, dan mengasihi, agar kita mewariskan damai kepada anak cucu kita,” tambahnya.
Dengan semangat persatuan dan gotong royong, Bupati menutup sambutannya dengan ajakan optimisme:
“Mari kita bersinergi dan memperkokoh soliditas dalam membangun leu auq-lewotana Lembata menuju masa depan yang lebih baik.”




Berikan Komentar