LEMBATA – PERAYAAN syukur Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 UBSP Watar Letar diawali dengan kegiatan Pawai Solidaritas yang mengusung tema “Lepas Landas Menuju Transformasi”.
Kegiatan tersebut menjadi simbol komitmen bersama untuk menjadikan UBSP sebagai agen transformasi sosial di Watar Letar dalam 25 tahun ke depan.
Pawai melibatkan anggota UBSP, anak-anak, remaja, orang dewasa, pengurus, pengawas, pemerintah desa, BPD, tokoh gereja serta tamu undangan. Seluruh peserta berjalan sejauh kurang lebih 800 meter sebagai simbol perjalanan panjang UBSP dalam membangun solidaritas dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Ketua Panitia HUT Ke-25 UBSP Watar Letar, Atanasius Rubong, kepada Media ini, Jumat (12/6/2026) mengatakan, perjalanan sepanjang 800 meter itu bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan lambang langkah kecil yang memberikan dampak besar bagi transformasi desa.
"800 meter ini adalah langkah kecil solidaritas, namun dampaknya besar untuk transformasi desa," demikian pesan yang disampaikan sebelum pelepasan kontingen.
Prosesi pembukaan diawali dengan laporan kesiapan peserta oleh panitia kepada Ketua Pengurus. Selanjutnya, Kepala Desa Watar Letar bersama Ketua Dewan Stasi dan Ketua BPD melepas peserta secara resmi melalui pengibaran bendera HUT ke-25 UBSP, pengibaran bendera Merah Putih, serta pembentangan spanduk perayaan.
Acara juga dimeriahkan dengan parade yel-yel penyemangat yang akan menggema sepanjang kegiatan. Peserta secara kompak meneriakkan slogan "Bersolider, Bertumbuh, Berubah" sebagai semangat utama perayaan seperempat abad UBSP Watar Letar.
Dalam ikrar solidaritas yang dibacakan bersama, seluruh peserta menyatakan komitmen untuk terus memperkuat organisasi dan meningkatkan kesejahteraan anggota.
"Satu langkah kami adalah satu suara anggota. Keringat kami adalah modal transformasi. Kemenangan kami adalah kesejahteraan bersama," demikian bunyi ikrar yang disampaikan peserta.
Panitia menjelaskan bahwa pawai solidaritas tidak hanya dimaksudkan sebagai pembuka rangkaian kegiatan HUT, tetapi juga menjadi sarana pendidikan kritis bagi anggota. Kehadiran pemerintah desa, BPD, dan unsur gereja sejak awal kegiatan menunjukkan bahwa transformasi sosial yang diperjuangkan UBSP merupakan gerakan bersama seluruh masyarakat.
Usai pawai, rangkaian acara dilanjutkan dengan sambutan Ketua Pengurus, Ketua Dewan Stasi, dan Kepala Desa Watar Letar yang sekaligus membuka secara resmi seluruh kegiatan HUT ke-25 UBSP. Pembukaan ditandai dengan penyalaan obor dan berbagai perlombaan tradisional yang melibatkan masyarakat.
Perayaan HUT ke-25 ini menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang UBSP Watar Letar yang lahir dari semangat solidaritas ekonomi umat dan kini terus berkembang sebagai wadah pemberdayaan masyarakat menuju kesejahteraan bersama.
UBSP Sedap Malam Berawal dari Krisis Moneter 1997, Kini Catat Omzet Rp1,2 Miliar
Berawal dari keprihatinan terhadap dampak krisis moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1997, sebuah kelompok usaha simpan pinjam berbasis umat di Kabupaten Lembata berhasil tumbuh dan berkembang hingga mencatat omzet mencapai Rp1,2 miliar pada tahun 2026.
Stanislaus Tawe, Salah satu penggagas dan pengurus awal UBSP Watar Letar, Jumat (12/6/2026), mengisahkan bahwa gagasan pembentukan usaha bersama tersebut lahir dari keresahan masyarakat dalam menghadapi kesulitan ekonomi saat krisis melanda.
Menurutnya, pada tahun 1999, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan menanggapi situasi tersebut dengan menyosialisasikan program peningkatan pendapatan ekonomi umat kepada masyarakat.
"Saat itu saya masih aktif sebagai anggota muda-mudi katolik. Kami melihat banyak keluarga mengalami kesulitan ekonomi. Pertanyaannya sederhana, bagaimana cara mendapatkan dan mengelola uang di tengah krisis," ungkapnya.
Dari keprihatinan itu, ia kemudian membentuk kelompok usaha simpan pinjam bernama UBSP Sedap Malam. Gagasan tersebut kemudian ditularkan kepada Kelompok Basis Gerejani (KBG) tempat ia bernaung.
Ia mengumpulkan para pengurus KBG dan mengajak mereka bersama-sama membangun wadah ekonomi yang dapat membantu anggota umat mengakses permodalan serta mengelola keuangan secara lebih baik.
"Semuanya berawal dari keprihatinan terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Kami berkumpul bersama pengurus KBG untuk mencari jalan keluar dan membangun kemandirian ekonomi umat," katanya.
Perjalanan panjang yang dimulai dari skala kecil itu kini membuahkan hasil. Setelah berdiri sejak tahun 2021, UBSP terus berkembang dan memperluas pelayanan kepada anggota.
Memasuki tahun 2026, UBSP berhasil mencatat omzet mencapai Rp1,2 miliar, sebuah capaian yang menunjukkan keberhasilan pengelolaan usaha serta tingginya partisipasi anggota dalam mengembangkan ekonomi berbasis komunitas.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa inisiatif yang lahir dari semangat gotong royong dan kepedulian sosial mampu bertahan dan berkembang, bahkan menjadi salah satu instrumen pemberdayaan ekonomi umat di tengah berbagai tantangan zaman. (adabnewsteam).
Berita Terkait
Masih Misterius, Keluarga Ungkap Temuan “Braha” dan Uang Kertas di Makam Jadi Bukti Keresahan Terduga Pelaku