KETUA Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Alexander Raring, menyerukan Pemerintah Kabupaten Lembata meningkatkan level Damkar sebagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Teknis dari sekedar Bidang yang bersandar di bawah naungan Satolpol PP.
Seruan tersebut bertumpu pada fakta lemahnya Damkar dengan berbagai keterbatasannya mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meningkat di musim kemarau.
Berbicara kepada media ini, Rabu (6/11/2025), Ketua Forum PRB Lembata, Alexander Raring mengatakan, kalau pemerintah melalui BPBD setiap tahun mulai bulan Juli mulai aktifkan pos dan peringatan SIAGA KARHUTLA, maka ada sesuatu yang mengkuatirkan dan menggelisahkan sehingga kita harus Siaga.
Raring menyambut baik upaya pengaktifan pos siaga karhutla.
"Penetapan ini sangat masuk akal karena setiap tahun pulau ini berubah warna sebanyak 3 kali. Hijau di nusim hujan ( Dember sampai Maret) coklat pasca hujan ( April sampai Juli) dan hitam di bulan Agustus sampai November)," ujar Raring.
Menurutnya, salah satu langkah yang dinilai efektif adalah menaikan level Damkar sebagai OPD teknis agar lebih leluasa mengatasi karhutla di Lembata.
Ia menjelaskan, sesuai data KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) Wilayah Lembata, per September 2025, Jumlah Hotspot Karhutla sudah mencapai 2.367 hektar sementara yang bisa ditangani oleh Bidang Damkar seluas 68,34 hektar, atau baru 2,89% yang bisa ditangani. Sehingga mengarah kepada Karhutla yang semakin masif.
"Dari fakta dan data ini saja mestinya hari ini kita mesti melihat kehadiran DAMKAR sebagai sebuah OPD harus menjadi kebutuhan yang urgen. Apalagi kalau kebakaran lahan tentu sangat berisiko pada aset pertanian yang jika dikaji lebih jauh dampaknya akan menyasar kebanyak aspek dan sendi kehidupan," ungkap Raring.
"Sejauh ini beberapa kejadian kebakaran, melalui FPRB, DAMKAR telah menunjukan bahwa keberadaannya tidak bisa dipandang remeh tetapi sangat vital dan strategis. Terima kasih teman-teman SATPOL PP bidang DAMKAR," ungkapnya.
Sementara itu, Yohanes Lalang, Kabid Damkar, Satpol PP Kabupaten Lembata menjelaskan, berbagai kekurangan sarana prasarana pemadam kebakaran bekas dan sudah uzur dimakan usia.
"Biasanya, kesulitan utama pemadaman kebakaran karhutla adalah akses jalan cukup sulit ke titik sebaran api. Selain itu, kendala di operasional lapangan terkait sarpras Damkar, mobil tangki air pendukung mobil damkar tidak ada, ideal nya 3 - 5 mobil tangki air harus ikut bergerak ke TKP. Mobil damkar yang digunakan saat ini adalah Ex Mobil Damkar Jobber yang usianya sudah mencapai 20 an tahun, kecepatan nya rendah, water Canon tidak berfungsi secara baik, dan onderdil lainnya sudah termakan usia kendaraan," ujar Yohanes Lalang. (adabnews team).




Berita Terkait
Forum Peduli Persebata Laporkan Pengumpulan Donasi, Total Terkumpul Rp25,9 Juta
PLN UIP Nusra Berdayakan Perempuan Pesisir Lifuleo Melalui Program Desa Eco-Bahari
Jelang Natal, Ribuan Penumpang Menumpuk di Pelabuhan Lewoleba
Plan Indonesia Gelar Bazar Pendidikan di 79 Desa Dampingan Lembata
Kiper Utama Absen, Persebata Tetap Optimistis Hadapi Gresik United
Forum Peduli Persebata Buka Donasi, Hari Ketiga Dana Masuk Capai Rp17,9 Juta untuk Kebutuhan Mendesak Tim
Pelatih Persebata Soroti Ketidakadilan Wasit Jelang Laga Hidup Mati Kontra Gresik United
Implementasi ESG Berkelanjutan, PLN UIP Nusra Sabet Dua Penghargaan Platinum di Indonesia Green Awards 2026
Kajari Lembata Soroti Dominasi Kasus Lakalantas dan Persetubuhan Anak Sepanjang 2025
7000 Bibit Mangrove untuk Desa Padak Guar: PLN UIP Nusra Teguhkan Komitmen Jaga Lingkungan Ring 1 PLTU Sambelia