Ibu Vero dan Perjuangan Mewujudkan Sekolah Ramah Anak di Meluwiting

photo author
- Selasa, 23 Juni 2026 | 07:06 WITA
Ibu Vero dan Perjuangan Mewujudkan Sekolah Ramah Anak di Meluwiting
Veronika Ose Wuwur, Kepala Sekolah SDK Meluwiting

SUARA anak-anak yang riang bermain di halaman SDK Meluwiting terdengar biasa saja. Namun di balik keceriaan itu, tersimpan perjalanan panjang sebuah sekolah dalam membangun lingkungan belajar yang aman, ramah, dan bebas dari kekerasan. 

Di balik perubahan itu, ada sosok Veronika Ose Wuwur, atau yang akrab disapa Ibu Vero.

Perempuan yang telah mengabdi sebagai guru dan kepala sekolah selama puluhan tahun ini akan memasuki masa purna tugas pada 1 Juli 2026. Namun sebelum meninggalkan sekolah yang telah menjadi bagian besar hidupnya, ia ingin memastikan satu hal: upaya perlindungan anak harus terus berjalan.

"Pada 1 Juli nanti saya pensiun, tetapi khusus Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK), saya sudah sampaikan bahwa SK saya masih sampai tahun 2027. Saya tetap ada bersama kalian," ujarnya.

Perjalanan SDK Meluwiting bersama Plan Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Sejak tahun 2004, berbagai program telah hadir dan membantu sekolah tersebut.

Mulai dari pembangunan fasilitas MCK, pembangunan satu ruang Taman Kanak-Kanak pada 2009, program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), program dokter kecil, program sikat gigi massal, penanaman pohon, hingga penyediaan sarana cuci tangan saat wabah Covid 19 menyerang.

"Sudah banyak program yang masuk dan sangat membantu kami pihak sekolah," kata Ibu Vero.

Bahkan hingga kini, sekolah masih menyimpan harapan agar bantuan terus berlanjut. Salah satunya untuk memperbaiki atap perpustakaan yang rusak sejak diterjang Badai Seroja pada 2021.

Namun bagi Ibu Vero, bantuan fisik bukan satu-satunya hal penting. Yang lebih berharga adalah perubahan cara pandang dalam mendidik anak.

"Saya selalu mengimbau agar kita mengubah pola. Jangan menggunakan kekerasan yang membuat anak takut," tuturnya.

Dari Administrasi ke Pemahaman yang Sesungguhnya

Tahun 2025 menjadi titik penting bagi SDK Meluwiting. Bersama Plan Indonesia dan Program Sekolah Ramah Anak dari P2PA, sekolah mulai membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK).

Awalnya, pembentukan TPPK hanya dipahami sebagai kewajiban administrasi.

"Program TPPK dari kementerian harus diunggah ke Dapodik. Dengan pengetahuan kami yang masih terbatas, kami hanya melampirkan kepengurusan dan SK kepala sekolah. Tupoksi pengurus bahkan belum kami pahami," kenangnya. Pendampingan dari Plan Indonesia kemudian membuka wawasan baru.

"Saya sangat bersyukur dengan pendampingan Plan. Saya baru menyadari bagaimana sebenarnya TPPK itu bekerja."

Sejak Oktober 2025, sekolah mulai menyusun standar operasional prosedur (SOP), mekanisme penanganan kasus, hingga sanksi edukatif bagi pelaku kekerasan dan perundungan. 

Empat guru kelas mendapat pelatihan khusus untuk menangani kasus-kasus bullying dan kekerasan di sekolah. Perubahan pun mulai terlihat.

Ketika Menulis Tidak Lagi Cukup

Sebelum ada pendampingan, penyelesaian kasus di sekolah biasanya sederhana. Anak yang berkelahi dipanggil, diminta menulis kronologi, lalu persoalan dianggap selesai. Jika dianggap berat, orang tua dipanggil.

Salah satu kejadian terjadi pada Mei 2025. Berawal dari pertandingan sepak bola antar anak, seorang penonton ikut menendang bola yang keluar lapangan. Tidak terima, seorang anak meninju temannya.

"Korban sampai pucat pasi dan pipinya merah. Saat itu kami hanya memanggil guru dan membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi lagi," kata Ibu Vero.

Data sekolah menunjukkan, sepanjang 2024 hingga 2025 terdapat lima kasus bullying dan kekerasan. Satu kasus berupa perundungan terhadap seorang siswi berprestasi yang dijauhi teman-temannya. Empat kasus lainnya merupakan kekerasan fisik. Kini pendekatannya berbeda.

"Kekerasan dan bullying harus diselesaikan dengan berbicara dari hati ke hati," ujarnya.

Pelaku tidak lagi sekadar dihukum. Mereka diajak memahami dampak perbuatannya, meminta maaf, dan memperbaiki hubungan dengan korban.

Sekolah juga menerapkan sanksi edukatif. Anak yang terlibat kasus dapat diminta memimpin doa, menulis refleksi dalam beberapa kalimat, atau melakukan kegiatan yang membangun karakter positif.

Menangani Konflik Hingga ke Luar Sekolah

Pendampingan yang diterima membuat sekolah lebih percaya diri menangani kasus yang bahkan terjadi di luar lingkungan sekolah.

Suatu ketika terjadi perselisihan antara siswa SD dan SMP yang berawal dari saling menantang untuk berkelahi. 

Dalam insiden itu, seorang siswa SD menjadi korban salah sasaran.

Karena korban masih mengenakan seragam sekolah, pihak SDK Meluwiting mengambil langkah penyelesaian.

Mereka berkoordinasi dengan sekolah lain, memanggil orang tua, dan mempertemukan semua pihak untuk mencari solusi bersama.

Kasus lain terjadi ketika seorang siswa SD hendak mengikuti belajar kelompok. Dalam perjalanan, ia dikejar sekelompok anak SMP sehingga ketakutan dan pulang ke rumah tanpa jadi belajar.

Alih-alih membiarkan persoalan berlalu, sekolah mengirim surat resmi kepada kepala sekolah SMP dan memfasilitasi pertemuan bersama orang tua.

"Kami beri kesempatan kepada orang tua untuk menyampaikan masukan. Semua diselesaikan secara bersama-sama," jelas Ibu Vero.

Lagu Persahabatan di Setiap Awal Hari

Perubahan di SDK Meluwiting tidak hanya terlihat dalam penanganan kasus. Sekolah juga berupaya mencegah kekerasan sejak awal.

Setiap hari, anak-anak diajak membangun budaya saling menghargai. Salah satunya melalui lagu tentang persahabatan yang dinyanyikan sebelum memulai kegiatan belajar.

"Kami ingin anak-anak terbiasa saling menyayangi teman dan tidak melakukan bullying maupun kekerasan," kata Ibu Vero.

SOP dan aturan sekolah juga terus disosialisasikan kepada siswa maupun orang tua. Bahkan sekolah dan orang tua telah bersepakat bahwa jika terjadi kasus kekerasan yang sampai berdampak pada kesehatan anak dan membutuhkan penanganan puskesmas, pihak sekolah akan ikut bertanggung jawab dalam proses penyelesaiannya.

Memahami Anak di Balik Perilakunya

Bagi Ibu Vero, pendampingan Plan Indonesia mengajarkan satu hal penting: setiap perilaku anak memiliki cerita yang perlu dipahami.

Ia mengingat seorang siswa kelas VI bernama Aloy. Suatu hari, anak itu ditemukan tertidur dengan mengenakan seragam sekolah di bawah pohon pisang saat jam sekolah.

Awalnya banyak yang mengira ia hanya malas belajar. Namun setelah ditelusuri, ternyata anak itu sedang demam dan kelelahan setelah membantu pekerjaan rumah sejak pagi.

Lebih jauh lagi, anak tersebut sedang merindukan sosok ibunya yang merantau.

"Dari situ saya belajar bahwa anak-anak sebenarnya membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Kita harus memahami mereka lebih dulu," ungkapnya.

Menjelang masa pensiunnya, Ibu Vero mengaku masih membutuhkan pendampingan dari Plan Indonesia.

Menurutnya, masih banyak guru yang perlu memperoleh pengetahuan serupa agar perlindungan anak dapat berjalan lebih baik.

"Plan hadir dan sangat membantu kami. Kami masih membutuhkan pendampingan agar semakin banyak guru yang memahami cara menangani kekerasan dan bullying."

Bagi Ibu Vero, keberhasilan sekolah bukan hanya tentang nilai akademik. Lebih dari itu, keberhasilan adalah ketika setiap anak merasa aman, dihargai, dan dicintai saat berada di sekolah. (ADABNEWSTEAM).


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

X
Dapatkan Full Source Code - CMS DATAGOE