Dibalik Nyala Obor Toleransi NKRI Yang Disulut Bupati Kanis Tuaq

photo author
- Senin, 17 November 2025
Dibalik Nyala Obor Toleransi NKRI Yang Disulut Bupati Kanis Tuaq
Kepala Kesbangpolinmas Lembata, Kanisius Making Menyalakan Obor Toleransi NKRI
Dapatkan full source code Asli


adabnews.com

SENJA baru saja turun di Taman Kota Lewoleba, Ibu Kota Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Minggu (16/11/2025), ketika satu per satu obor mulai menyala.

Bukan obor biasa, melainkan obor yang mewakili keberagaman iman dan persaudaraan. Di tengah kerumunan yang memadati ruang terbuka itu, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Lembata bersama masyarakat lintas agama menggelar peringatan Hari Toleransi Internasional, Minggu 16 November 2025.

Di antara lautan manusia, tampak para pemuka agama—Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha—berdiri berdampingan. Masing-masing memegang obor yang akan menyalakan simbol toleransi di tanah yang dikenal luas dengan semboyan Taan Tou itu.

Namun, ada satu obor yang menjadi pusat perhatian sore itu—Obor NKRI. Simbol persatuan itu dinyalakan oleh Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, yang dalam kesempatan ini diwakili Kepala Badan Kesbangpol Lembata, Petrus Kanisius Making.

Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Lembata memang menyeting acara agar memantik kepedulian Pemda Lembata meski acara ini nihil intervensi anggaran Pemda selain kehadiran.

Obor itu, lebih dari sekadar cahaya, seakan menyala sebagai peringatan: Indonesia berdiri, hidup, dan tumbuh oleh keberagaman.

Karnaval Budaya: Wajah Bhinneka Tunggal Ika di Jalanan Lewoleba

Sebelum obor dinyalakan, jalanan kota Lewoleba diramaikan dengan karnaval budaya. Anak-anak muda bergandeng tangan dengan tokoh-tokoh adat, pelajar berjalan bersama para pemimpin agama. Paguyuban, kementerian agama, dan kelompok masyarakat lintas suku dan kepercayaan larut dalam barisan yang memamerkan busana tradisional, musik, dan tarian lokal.

Di wajah mereka, tidak tampak perbedaan—hanya semangat yang sama: merayakan Indonesia yang satu, tanpa menghapuskan warna-warni yang menyusunnya.

"Toleransi Bukan Muncul Begitu Saja"

Dalam sambutan Bupati Lembata yang dibacakan Petrus Kanisius Making, terselip pesan mendalam:

“Peringatan Hari Toleransi Internasional adalah momentum yang mengingatkan kita semua, bahwa keragaman adalah kekayaan dan kekuatan bagi bangsa kita. Toleransi bukanlah sesuatu yang tercipta begitu saja, melainkan harus terus dibentuk dan dipertahankan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.”

Kalimat itu menggema di antara nyala api dan doa syukur lintas iman.

Acara dilanjutkan dengan doa dari masing-masing pemuka agama, lalu pembacaan seruan moral toleransi dan kerukunan. Sebuah pengingat bahwa damai harus dijaga, bukan ditunggu.

Lembata: Rumah Bersama, Tanah yang Memeluk Semua

“Negeri kita Indonesia dan juga Kabupaten kita tercinta Lembata, adalah rumah besar yang dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang suku, agama, ras, dan budaya yang beragam,” tegas Bupati.

Lembata, pulau kecil di antara sabuk keindahan Nusa Tenggara Timur, memang tak pernah berdiri di atas keseragaman. Di sini, adat dan agama berdialog dalam hangat sapaan. Di sini pula, perbedaan bukan luka—melainkan tali yang menenun persaudaraan.

Tetapi Bupati juga sadar: toleransi bukan sesuatu yang dibiarkan tanpa perawatan. Ia mesti diajarkan, dihidupi, dan diwariskan.

Generasi Muda: Penjaga Nyala, Pewaris Harapan

Forum Kerukunan Umat Beragama akan terus menciptakan ruang damai, inklusif, dan berkeadilan. Namun itu tak berarti pemerintah bekerja sendiri.

“Semua itu tidak akan berhasil tanpa dukungan seluruh elemen masyarakat, dukungan dari tokoh agama, tokoh adat, paguyuban-paguyuban, hingga generasi muda. Mereka adalah garda terdepan yang menjaga nilai-nilai toleransi di lingkungan masing-masing.”

Di sudut taman, seorang pelajar SMA memegang obor kecil yang dibuat manual. Di matanya, cahaya obor yang lebih besar seolah terpantul—menyala, kokoh, hidup.

Saudara Seiman dan Saudara Sebangsa

Di penghujung acara, satu kalimat sederhana namun amat dalam terlontar:

“Mereka yang bukan seiman adalah saudara dalam kemanusiaan.”

Toleransi di Lembata bukan hanya wacana. Ia dihidupkan dalam nyala obor, langkah karnaval, dan doa bersama. Ia tumbuh dalam simpul antara adat Lamaholot dan keberagaman Nusantara.

Saat malam menutup langit Lewoleba, obor-obor itu masih menyala. Menjaga ingatan akan pesan sederhana:
Kita boleh berbeda, tapi kita tetap satu. Kita tetap Indonesia. (adabnewteam).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

X
Dapatkan Full Source Code - CMS DATAGOE