Di Tengah Keterbatasan, Persebata Lembata Menolak Menyerah

photo author
- Minggu, 28 Desember 2025
Di Tengah Keterbatasan, Persebata Lembata Menolak Menyerah
Diretkur Persebata bersama Bupati Lembata dan Kadis Porabud mendiskusikan Solusi dalam kemelut finansial yang mendera tim Persebata Lembata
Dapatkan full source code Asli


LEMBATA-adabnews.com

Di Lapangan Pasiran, Surabaya, sore 26 Desember 2025, peluit panjang menjadi saksi sebuah pesan penting dari tim kecil asal kepulauan. Persebata Lembata—tim kebanggaan masyarakat Lomblen—menang meyakinkan 1–3 atas Persikabpas.

Kemenangan itu bukan sekadar tambahan tiga poin, melainkan penegasan bahwa keterbatasan tak selalu menjadi penghalang untuk bermimpi besar.

Di tengah segala kekurangan, Persebata kini bertengger di posisi ketiga klasemen sementara Liga III Nusantara. Sebuah capaian yang mungkin terlihat biasa bagi klub mapan, namun terasa istimewa bagi tim berjuluk Laskar Sembur Paus yang berlaga dengan sumber daya seadanya.

Namun, di balik prestasi itu, ada cerita perjuangan yang tak selalu terlihat dari papan skor.

Sepak Bola dan Realitas Finansial

Direktur PT Persebata Lembata, Berto Take, tak menutupi realitas pahit yang dihadapi klubnya. Bermain di Liga III, kata dia, bukan perkara teknis semata, tetapi soal bertahan hidup.

“Liga 3 memang tidak banyak dilirik sponsor. Pamornya kalah jauh dibanding Liga 1 dan Liga 2,” ujarnya.

Kalaupun ada sponsor, sering kali hanya sebatas formalitas. “Yang penting logonya nempel di jersey,” tambahnya dengan nada jujur.

Menurut Berto, sponsor baru benar-benar melirik jika tim mampu melangkah jauh—minimal semifinal, atau bahkan juara. Tantangan ini membuat manajemen Persebata harus bekerja ekstra keras demi menjaga roda tim tetap berputar.

Saat ini, Persebata Lembata ditopang oleh sponsor utama seperti PT Bank Pembangunan Daerah NTT, Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Lembata, serta NBBN FC.

Namun biaya operasional tetap menjadi beban besar. Setiap bulan, klub harus mengeluarkan dana sekitar Rp150 juta hingga Rp200 juta, di luar gaji pemain.

“Angkanya memang besar, karena kita ingin pemain mendapat fasilitas terbaik agar siap dan bisa tampil maksimal,” jelas Berto.

Dukungan Daerah dan Solidaritas Publik
Upaya manajemen mencari solusi juga mendapat angin segar dari Pemerintah Kabupaten Lembata.

Dalam pertemuan bersama PT Persebata Lembata, yang turut dihadiri Kepala Dinas Porabud dan Kepala Badan Keuangan Daerah, Bupati Lembata menyatakan komitmen mendukung tim, meski secara regulasi tidak bisa menggunakan APBD secara langsung.

Dengan tegas, Bupati menyebut sepak bola sebagai kebutuhan masyarakat. “Pemerintah wajib hadir memenuhi kebutuhan itu dengan langkah taktis dan strategis, tentu tetap sesuai regulasi,” ujarnya.

Lebih jauh, Bupati menegaskan bahwa sponsor terbesar Persebata Lembata sejatinya adalah masyarakat Lembata sendiri. Ia mengajak seluruh warga, di mana pun berada, untuk ikut berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing.

Langkah penggalangan dana oleh Forum Peduli Persebata pun mendapat apresiasi. Menurut Bupati, forum tersebut telah lebih dulu berdiskusi dengan pemerintah daerah.

Harapannya, dana yang terkumpul benar-benar tepat sasaran dan mampu menopang perjuangan tim.
Kepala Dinas Porabud pun menegaskan kesiapan OPD teknis untuk menerjemahkan arahan bupati dan bersinergi dengan PT Persebata Lembata demi mendukung tim kebanggaan daerah.

Profesionalisme yang Dibangun Perlahan
Di tengah keterbatasan, Persebata Lembata tetap berupaya membangun profesionalisme.

Sebanyak 30 pemain terdaftar dalam aplikasi SIAP PSSI dan dikontrak layaknya klub profesional.

“Kita benahi secara bertahap, dimulai dari manajerial tim. Pemain kita kontrak secara profesional,” kata Berto.

Skema kontrak pun dibuat berjenjang, dari kategori spesial hingga grade 1, berdasarkan peran dan posisi pemain dalam tim. Untuk kategori tertinggi, nilai kontrak mencapai Rp7 juta per bulan—angka yang mungkin sederhana di level nasional, namun berarti besar bagi klub Liga III.

Lebih dari Sekadar Sepak Bola
Di akhir pernyataannya, Berto Take menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berdiri bersama Persebata: pemerintah daerah dan provinsi, Askab PSSI Lembata, Lomblen Mania, Forum Peduli Persebata, NBBN FC, Paguyuban Lembata di Surabaya, komunitas musisi Lembata, para donatur, sponsor, hingga seluruh masyarakat yang memberi dukungan moril dan materil.

Persebata Lembata hari ini bukan hanya soal sepak bola. Ia adalah cermin solidaritas, keteguhan, dan mimpi masyarakat kepulauan yang menolak dipinggirkan. Di tengah keterbatasan, Laskar Sembur Paus terus berenang melawan arus—membawa harapan, dari Lembata untuk Nusantara. (adabnewsteam).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

X
Dapatkan Full Source Code - CMS DATAGOE