DI TENGAH derasnya gelombang game digital yang mengurung anak-anak dalam layar gawai, sebuah ruang hidup tiba-tiba terbuka di Aula Paroki Santo Fransiskus Assisi BTN Kolhua, Kupang.
Ratusan anak SD dan SMP berlarian, tertawa, dan saling menyemangati, bukan karena skor virtual, tetapi karena gasing kayu yang berputar, tali merdeka yang melompat, dan galasing yang memantik adrenalin. Festival Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional yang digelar Jumat (5/12/2025) itu menghidupkan kembali warna yang lama pudar dalam keseharian anak Kota Kupang.
Di balik keriuhan itu ada kerja kolaboratif yang tak biasa: KPOTI Kota Kupang, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI NTT, Pemerintah Kota Kupang, serta Paroki Kolhua dan Bello. Bukan sekadar event, mereka ingin memulihkan sesuatu yang lebih dalam: identitas budaya.
Ketua KPOTI Kota Kupang, Goris Takene, tak menutupi keprihatinannya. Anak-anak, katanya, kini lebih akrab dengan layar ketimbang halaman bermain. Karena itu festival ini menjadi jalan kecil untuk mengembalikan budaya yang mulai renggang dari ingatan generasi muda.
“Ini bukan lomba. Ini ruang memulihkan jati diri, ruang agar anak-anak kembali bergerak, berinteraksi, dan mengenal warisan leluhur,” tegasnya.
Gereja pun ikut membuka pintu. Romo Dus Bone, Pastor Paroki Santo Fransiskus Assisi Kolhua, menyebut permainan rakyat sebagai sarana membangun karakter, hal yang sering hilang dalam interaksi digital.
“Gereja harus menyediakan ruang yang mendidik. Permainan rakyat mengajarkan kejujuran, sportivitas, dan persaudaraan,” ujarnya.
Pemerintah Kota Kupang melihatnya sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter. Sekda Kota Kupang, Jefri Pelt, memastikan dukungan berkelanjutan. Baginya, permainan tradisional bukan nostalgia, melainkan instrumen pendidikan yang membentuk disiplin dan ketangguhan anak.
Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu lahir dari ruang kelas. Kadang ia tumbuh dari gelanggang sederhana, di antara anak-anak yang menjerit kegirangan saat gasingnya menang atau ketika mereka belajar menerima kekalahan.
Festival sepanjang akhir pekan itu menjadi pengingat bahwa kebudayaan tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya menunggu pintu yang dibuka kembali. (Adabnewsteam).




Berita Terkait
Dari Krisis ke Kemandirian: PLN dan Yayasan Papha Salurkan Air Bersih Tiga Dusun di Desa Nubahaeraka
Wujudkan Komitmen Antikorupsi, Kejari Lembata Gelar Penyuluhan Hukum dalam Peringatan HAKORDIA 2025
Air Bersih dan Perlindungan Anak: Jejak Panjang Intervensi Plan Indonesia di Lembata
Cahaya di Puncak Al Muhajirun
Danantara Bersama BUMN Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Pemulihan Pascabencana di Aceh
Kiprah Forum Jurnalis Lembata dalam Menyongsong Hari Pers Nasional 2026
Hari Pahlawan 2025 di Lembata: Ketika Anak Muda Menggugat Ketimpangan Sosial dan Iklim yang Tak Lagi Adil