BAGI banyak orang, air bersih hanya urusan kran, keran, dan meteran. Tetapi bagi ribuan anak di Lembata, air bersih adalah penentu masa depan: apakah mereka bisa bersekolah, apakah mereka aman dari kekerasan, hingga apakah mereka tumbuh sehat dan terhindar dari stunting.
Itulah mengapa Yayasan Plan International Indonesia menempatkan air bersih sebagai salah satu intervensi paling dasar di wilayah dampingan mereka. Bagi Erlina Dangu, perwakilan Yayasan Plan, persoalan air bukan sekadar soal keberadaan jaringan, bak, atau sumur bor—melainkan soal masa depan anak-anak di pulau ini.
“Plan Indonesia melihat air bersih itu hal dasar bagi anak di Lembata,” ujar Erlina Dangu kepada Pers di kantor Plan, kota Lewomeba.
---
Air dan Perlindungan Anak: Risiko yang Sering Tak Terlihat
Di banyak desa dampingan Plan seperti Leuwayan, Lamau, Tanjung, Mampir, dan Kedang, air bersih dulu berarti satu hal: perjalanan jauh.
Anak-anak berjalan menuju mata air, menuruni lereng, menyeberangi kebun, lalu mendaki kembali sambil memanggul jeriken. Perjalanan pulang-pergi biasanya memakan waktu lebih dari 30 menit—bahkan bisa lebih dari satu jam.
Di situlah risiko kekerasan dan kecelakaan meningkat.
“Ketika air jauh, ada potensi kekerasan. Baik karena jalur yang rawan maupun karena tekanan ekonomi dan psikologis di rumah,” jelas Erlina.
Waktu belajar anak juga hilang. Banyak anak perempuan dipukul atau dimarahi jika terlambat membawa air. Sementara kebutuhan air rumah tangga tidak pernah menunggu.
Dengan intervensi air bersih, risiko itu menurun drastis.
---
Membangun Akses Air dari Hulu ke Hilir
Intervensi Plan tidak hanya membangun fisik. Tidak hanya bak atau pipa.
Skemanya menyentuh seluruh rantai: Pertama, Infrastruktur dasar;
Pembangunan bak penampung air hujan, Jaringan pipa sistem gravitasi, Instalasi pompa dan teknologi air bersih, Pembuatan dan perbaikan jaringan air desa,
Sumur bor di wilayah seperti Wowong dan Lamau
Di Desa Lamau, misalnya, sumur bor yang mangkrak selama 25 tahun akhirnya diaktifkan kembali melalui kerja sama Plan dengan vendor khusus. Kini sumur itu mengalir ke kebun pertanian anak muda desa.
Kedua; Penguatan lembaga;
Pelatihan teknisi desa untuk memperbaiki jaringannya sendiri, Pelatihan manajemen kelompok air yakni membentuk atau memperkuat Badan Pengelola Air Minum (BP-SPAM), menetapkan iuran yang terjangkau (Rp5.000 – Rp10.000), dikelola bersama pemerintah desa.
Unit usaha Bumdes juga mulai mencatat pendapatan dari layanan air bersih. Di beberapa tempat seperti Tagawiti, hasil konservasi air bahkan berkembang menjadi usaha buah mangga, naga, dan nanas. Pendapatan dari sumur bor mencapai Rp15 juta per tahun sebagai PAD.
---
Ekonomi Rumah Tangga Ikut Terangkat
Sebelum adanya jaringan air, warga desa di Tanjung misalnya harus membeli air antara Rp200–300 ribu per bulan.
Kini cukup membayar iuran bulanan.
“Uang sisa itu bisa dipakai untuk kebutuhan lain, termasuk peningkatan gizi anak dan penurunan stunting,” ujar Erlina.
Dengan sedikit air yang tersedia, pendekatan permakultur di Tana Merah memungkinkan warga memanfaatkan pekarangan secara efisien, bahkan dengan air yang sangat terbatas. Intervensi jaringan Plan di wilayah Lamawolo dan Waimatan dilakukan bersamaan dengan swadaya masyarakat dan tambahan dana desa hingga Rp115 juta.
---
Leuwayan: Ketika Suara Air Menyalakan Harapan
Di Desa Leuwayan, intervensi air hanya boleh dilakukan setelah proses sosial berjalan matang: Sosialisasi ke masyarakat, Penjelasan manfaat, risiko, dan kewajiban, Kesepakatan bersama, Pembagian peran antara Pemdes dan Plan, Sharing anggaran.
Plan, kata Erlina, tidak membangun tanpa persetujuan masyarakat.
“Kami selalu kembalikan ke masyarakat: setuju atau tidak. Harus ada rasa memiliki,” kata Erlina.
Kini, setelah jaringan diperbaiki dan bak pipa ditata kembali, air mengalir dua hari dalam seminggu—sebuah kemajuan besar dari kondisi sebelumnya yang hanya sekali dalam seminggu.
---
Standar Khusus untuk Anak Dampingan Plan
Dari 79 desa dampingan di Ile Ape, Lebatukan, dan Kedang, Plan menetapkan standar wajib bagi seluruh anak dampingan:
Akses air bersih tidak lebih dari 30 menit, Wajib sekolah, Wajib mendapatkan vaksin, Wajib memiliki sanitasi layak, Wajib memiliki akta kelahiran, Wajib ikut sensus anak setiap tahun.
Hasilnya luar biasa:
Dari 7.700 anak dampingan, 99% telah memiliki akses air, BPJS, vaksin, dan akta lahir.
---
Konservasi: Menanam Air untuk Generasi Mendatang
Di Mampir, Tanjung, dan Tagawiti, Plan menjalankan program “Menanam Air”: membuat lubang resapan di setiap rumah sejak 2018 hingga 2023.
Hari ini, hasilnya terlihat. Pohon mangga, naga, dan nanas tumbuh subur. Bumdes menjadikan buah-buah ini sebagai unit usaha.
Tagawiti yang dulunya kering kini memiliki titik air baru hasil konservasi bersama warga.
---
Ketika Air Bersih Menjadi Pondasi Masa Depan
Di titik-titik seperti Umaleu yang berada di atas desa, atau Leuwayan dan Lewohung yang berada di lereng, Plan mengatur pola gravitasi.
Di Tana Merah yang topografinya menantang, pompa menjadi solusi.
Di Wowong, sumur bor menghidupkan harapan.
Di Kedang, survei titik air dilakukan ketat—dengan pemeriksaan debit dan kandungan E.coli sebelum pembangunan.
Bagi Erlina Dangu, semua usaha ini bermuara pada satu tujuan:
“Akses air bersih bukan hanya untuk minum dan mandi. Ini tentang perlindungan anak, pendidikan anak, dan masa depan anak-anak di Lembata,” ujar Erlina.
Air adalah kehidupan.
Dan di Lembata, air adalah perlindungan. (adabnewsteam).




Berita Terkait
Wujudkan Komitmen Antikorupsi, Kejari Lembata Gelar Penyuluhan Hukum dalam Peringatan HAKORDIA 2025
Danantara Bersama BUMN Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Pemulihan Pascabencana di Aceh
Hari Pahlawan 2025 di Lembata: Ketika Anak Muda Menggugat Ketimpangan Sosial dan Iklim yang Tak Lagi Adil
Kiprah Forum Jurnalis Lembata dalam Menyongsong Hari Pers Nasional 2026
Cahaya di Puncak Al Muhajirun
Dari Krisis ke Kemandirian: PLN dan Yayasan Papha Salurkan Air Bersih Tiga Dusun di Desa Nubahaeraka
Festival Permainan Rakyat Kupang: Saat Anak-Anak Kembali Menemukan Akarnya