LEMBATA— STIGMA terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV) masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanggulangan HIV di Indonesia. Meski kemajuan medis telah memungkinkan ODHIV hidup sehat dan produktif, diskriminasi sosial sering kali justru menjadi beban yang lebih berat daripada virus itu sendiri.
Nevri Eken, aktivis Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) kepada media ini, Selasa (3/2/2026) menegaskan, penghentian stigma bukan hanya isu moral, tetapi merupakan langkah penting dalam mencegah penularan dan meningkatkan kualitas hidup para ODHIV.
“Ketika masyarakat masih memandang HIV dengan ketakutan dan salah kaprah, banyak orang menjadi enggan tes, ragu mencari pengobatan, dan takut mengungkapkan statusnya,” ujar Nevri Eken, seorang konselor HIV di Lembata.
Memisahkan Fakta dari Mitos
Menurut Eken, banyak stigma berawal dari kurangnya pemahaman. Padahal, HIV tidak menular melalui aktivitas sehari-hari seperti bersalaman, berpelukan, berbagi alat makan, menggunakan kamar mandi yang sama, atau melalui gigitan nyamuk dan keringat.
Edukasi dasar ini menjadi fondasi untuk menghapus ketakutan yang tidak berdasar di masyarakat.
Terobosan Medis: U = U
Nevri Eken menyebut, salah satu temuan penting dalam dunia medis adalah konsep U = U (Undetectable = Untransmittable). Melalui terapi Antiretroviral (ARV) yang rutin, kadar virus dalam darah ODHIV bisa ditekan hingga tidak terdeteksi.
Dalam kondisi ini, kata Aktivis KPAD itu, HIV tidak dapat ditularkan, termasuk melalui hubungan seksual. Artinya, ODHIV yang patuh menjalani pengobatan dapat hidup dengan kualitas yang sama seperti orang tanpa HIV dan tidak membahayakan orang di sekitarnya.
Bahasa yang Memanusiakan
Cara berbicara masyarakat juga turut membentuk persepsi. Penggunaan istilah yang menghargai martabat, seperti “ODHIV”, jauh lebih tepat dibanding sebutan yang bernada menghakimi seperti “penderita” atau “korban”.
Pendekatan bahasa yang lebih manusiawi membantu membangun empati dan mengurangi stereotip negatif.
Dukungan Jadi Kekuatan
Selain edukasi, dukungan sosial berperan besar dalam perjalanan hidup ODHIV. Memberikan ruang aman bagi keluarga, sahabat, atau kolega yang hidup dengan HIV untuk berbagi cerita tanpa rasa takut dihakimi adalah bentuk dukungan moral yang sangat berarti.
Para aktivis mengingatkan bahwa menghentikan stigma dimulai dari diri sendiri: belajar fakta yang benar, tidak menyebarkan informasi keliru, dan berani menegur jika menemukan ujaran atau perilaku diskriminatif.
Eken menegaskan, dengan pengetahuan dan empati, masyarakat dapat berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung bagi ODHIV—serta turut membantu menekan laju epidemi HIV di Indonesia. (adabnewsteam).




Berita Terkait
Rongsokan Jetty Rusak Pemandangan di Areal Pelabuhan Lewoleba
Satu Lagi Langkah Maju, Barakat Dorong Ekonomi Biru Di Kawasan Muro Lembata
HUT ke-18 Gerindra Lembata Diwarnai Gerakan Lingkungan, Program Sosial, dan Penguatan Konsolidasi Politik
Fiskal Daerah Terbatas, Pemkab Lembata Cari Terobosan Maksimalkan Potensi Ekonomi