Hidup Bersama Air yang Datang Seminggu Dua Kali: Perjuangan Desa Leuwayan Mengalirkan Asa dari Mata Air Weirawe

photo author
- Sabtu, 15 November 2025
Hidup Bersama Air yang Datang Seminggu Dua Kali: Perjuangan Desa Leuwayan Mengalirkan Asa dari Mata Air Weirawe
Dapatkan full source code Asli

adabnews.com 

SETIAP kali suara air mengalir di tugu keran desa, warga Leuwayan seperti merayakan hari besar. Sebab bagi desa yang berpenduduk lebih dari 1.600 jiwa ini, air bukan sekadar kebutuhan, tetapi anugerah yang hanya hadir seminggu dua kali—atau bahkan seminggu sekali sebelum intervensi pembangunan baru.

Air itu bersumber dari Mata Air Weirawe, yang debitnya hanya 1,8 liter per detik saat musim hujan, dan menyusut menjadi 1,3 liter per detik ketika kemarau. Meskipun kecil, mata air itu adalah nadi kehidupan bagi 360 kepala keluarga di Desa Leuwayan, Kecamatan Omesuri.

Namun persoalannya bukan hanya soal kecilnya debit air. Justru ironi terbesar di Leuwayan adalah ini:

Jaringan air ada. Bak penampung ada. Mata air ada. Tapi air tak kunjung sampai merata ke rumah warga.

Jaringan yang Ada, Air yang Tidak Sampai


Kepala Desa Leuwayan, Emanuel Ledo, memahami betul kesulitan itu. Ketika ia dilantik pada tahun 2020, jaringan pipa peninggalan program-program lama sudah tersebar hampir di seluruh wilayah.

Ada jaringan dari PNPM tahun 2005, ada pula reservoir kecil yang dulu dibangun pihak Misi dengan pipa diameter empat inci,

ada lima bak besar, ditambah delapan bak kecil. Secara teori, air mestinya mengalir lancar. Tapi kenyataannya tidak.

 “Jaringan lewat, air lewat. Tapi sampai di warga, air tidak ada,” ujar Emanuel Ledo.

Salah satu persoalan teknis yang dihadapi adalah pipa outlet reservoir yang tidak bekerja baik. Air mengendap di bak, namun daya dorong untuk distribusi nyaris tidak ada. Akibatnya, ada warga yang dapat air, ada yang tidak sama sekali—meski tinggal dalam satu dusun.

Intervensi Plan International: Harapan Baru Mengalir

Karena keterbatasan dana desa, Kades Emanuel Ledo mulai mencari bantuan. Sampai akhirnya, Plan International—yang selama ini mendampingi wilayah Ile Ape Timur—datang melakukan survei.

Hasil survei kala itu memperkirakan dana sekitar Rp280 juta untuk mengganti jaringan pipa dan memperbaiki sistem distribusi. Analisis kualitas air juga menunjukkan hal menggembirakan: kadar kapur (CaCO3) 0,0, artinya air Weirawe jernih dan layak konsumsi.

Plan kemudian membantu pemasangan jaringan pipa baru hingga mencapai lima titik rumah untuk satu tugu air. Meski belum sempurna, perubahan terasa signifikan bagi warga.

Air yang dulu hanya keluar seminggu sekali, kini bisa dua hari dalam seminggu, cukup untuk kebutuhan minum dan memasak.

Mama Sopia Tuto, warga Leuwayan, bercerita panjang tentang masa sebelum Plan masuk.

“Dulu air itu satu minggu satu kali keluar. Kalau hujan baru bisa tiap hari. Kami mandi cuci semua di sumur,” kenangnya.

Anak-anak sekolah dasar dan SMP sering jadi kurir air keluarga.

Jika orang tua butuh air sementara anak terlambat mengambil, adu suara tak dapat dihindari.

“Sempat marah-marah anak. Kalau kita butuh air, tapi mereka tidak ambil,” ujarnya sambil tersenyum kecut mengingat masa itu.

Setelah jaringan baru dipasang, Mama Sopia merasakan perubahan besar:

“Sekarang sudah bisa untuk cuci. Kami tidak ambil di sumur lagi. Hanya anak-anak yang masih mandi di sumur, itu biasa saja,” ujar Sopia. 

Dengan akses yang lebih baik, Mama Sopia bahkan mulai berpikir untuk menanam sayur, meski masih terkendala ternak yang berkeliaran.

Kearifan Lokal Menjaga Mata Air

Ada sebuah kearifan unik yang menjaga keberlanjutan air Weirawe: hutan mistis yang tidak boleh ditebang.

Sebanyak 13 suku di Leuwayan punya tanggung jawab adat untuk merawat mata air. Mereka menjaga tutupan hutan, memastikan tidak ada penebangan liar, dan memelihara aliran air tetap terjaga.

“Itu hutan tutupan. Sudah bagus. Tidak boleh tebang,” kata Kades Emanuel.

Kearifan lokal inilah yang membuat debit air Weirawe bertahan hingga hari ini, meski tidak besar.

Pengelolaan Air yang Mulai Tertata

Desa Leuwayan kini memiliki sistem pengelolaan air melalui BP-SPAM dengan petugas khusus. Warga membayar iuran Rp5.000 per bulan untuk perawatan jaringan, perbaikan kerusakan, dan menjaga mata air.

Dana desa setiap tahun juga mengalokasikan Rp50 juta untuk perluasan jaringan, termasuk untuk mencapai target ambisius:

Tiga rumah – satu tugu keran.

Selain itu, desa juga menyediakan 150 fiber tank untuk menambah kapasitas penampungan air warga.

Dari pengelolaan jaringan air ini, desa bahkan mulai memperoleh Pendapatan Asli Desa (PAD).

Bukti Dampak: Angka Stunting Turun Drastis

Akses air bersih bukan hanya memudahkan hidup, tapi juga meningkatkan kesehatan.

Ketika Emanuel Ledo menjabat, jumlah anak stunting mencapai 25 orang. Kini, hanya tersisa dua anak yang masih dalam pemantauan.

Bagi Desa Leuwayan, ini adalah bukti bahwa air adalah inti dari kehidupan—dari kesehatan, pendidikan, hingga ekonomi rumah tangga.

Air yang Mengubah Wajah Desa

Perjuangan Desa Leuwayan belum selesai. Masih ada 50 persen warga yang belum mendapatkan akses air bersih secara layak, terutama yang tinggal di wilayah pantai.

Namun perbaikan demi perbaikan datang.

Kerja sama pemerintah desa, masyarakat adat, Plan International, dan pendanaan desa membuat aliran air—meski kecil—tidak lagi dianggap mustahil.

Di Leuwayan, air mungkin tidak melimpah.

Tapi harapan itu terus mengalir, sedikit demi sedikit.

Sama seperti debit Weirawe yang hanya 1,8 liter per detik, namun cukup untuk menyalakan harapan sebuah desa. (adabnewsteam).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

X
Dapatkan Full Source Code - CMS DATAGOE