Lewoleba,— Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Budaya yang digelar Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lembata resmi dibuka di Auditorium Goris Keraf lantai dua. Kegiatan ini diikuti 32 dari total 60 peserta yang telah mendaftar, sebagian besar berasal dari kelompok guru.
Dalam laporannya, Ketua Panitia Frans Sabaleku menyampaikan, bimtek ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan peserta dalam teknik menulis sekaligus memperkuat pemahaman budaya lokal.
“Kegiatan ini mendorong peserta menjadi unggul, kreatif, dan kritis. Kami ingin menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal melalui tulisan,” ujarnya.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Lembata, Anselmus Ola Bahy, dalam sambutannya menekankan pentingnya menulis sebagai sarana pewarisan sejarah dan nilai-nilai budaya.
“Tanpa menulis, apa yang bisa kita wariskan kepada generasi kita? Hari ini kita berbagi ilmu, menggali sejarah kampung dan desa, lalu menuliskannya,” kata Ansel.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak pendukung dari Jakarta yang telah mengalokasikan dana untuk terselenggaranya kegiatan tersebut.
Menurutnya, menulis bukan sekadar hobi, tetapi dapat menjadi profesi yang menghasilkan. Dinas, katanya, siap mendukung penerbitan buku apabila para peserta menghasilkan karya layak terbit. “Minimal 20 tulisan bisa kita dapatkan. Jangan takut bahasanya jelek,” tegasnya.
Ansel menambahkan bahwa penguatan pengetahuan historis, praktik budaya, dan nilai filosofis di balik tradisi lokal menjadi fondasi penting dalam proses menulis. Ia juga menekankan pentingnya kemampuan menghubungkan masa lalu, realitas hari ini, dan masa depan agar tulisan memiliki kedalaman dan originalitas.
Lebih jauh, ia menyinggung dua kegiatan literasi yang berlangsung dua hari terakhir, yakni peluncuran program Lembata Baca oleh Bupati pada 17 September dan lokakarya pemanfaatan teknologi informasi bagi anak-anak dan guru. Ia mengingatkan bahwa kasus penyalahgunaan teknologi masih terjadi karena lemahnya literasi media.
“Di seluruh Indonesia, literasi media masih sangat lemah. Baik media sosial maupun media mainstream. Kita harus mampu membedakan berita benar dan hoaks,” katanya. Ia menegaskan perlunya kampanye anti-hoaks agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi menyesatkan.
Di akhir sambutan, Ansel mengajak peserta kembali ke akar budaya dan mulai mendokumentasikan cerita, nilai, dan bahasa daerah dalam berbagai bentuk tulisan, termasuk kemungkinan pengembangan konten kreatif seperti komik berbasis budaya lokal. (adabnewsteam).




Berita Terkait
PADMA Indonesia Desak Pemkab dan DPRD Ngada Dukung Autopsi Forensik Korban YBR
Ajang PLN Journalist Awards 2025 Dibuka, Apresiasi untuk Pewarta Penggerak Literasi Energi Nasional
SDK Santo Yosep 2 Kupang Gaungkan Permainan Rakyat dan Literasi Sekolah
FKUB Lembata Siap Rayakan Hari Toleransi Internasional Gandeng Paguyuban Nusantara dan Pemuda Lintas Agama
Laptop Uzur dan Meja Kerangka Salon Songsong HPN 2026
LBH Sikap Tantang Pemda dan DPRD Lembata Hasilkan Perda Optimalisasi Tuak dan Arak
KM Lawit Resmi Singgahi Pelabuhan Lewoleba Mulai 22 Januari 2026
KPOTI NTT Siap Tampilkan Permainan Tradisional dari Timor Dan Lembata DI Munas II KPOTI 2025
UMKM Berpamer, Persebata Berjuang: Semarak HUT ke-67 NTT di Pantai Wulon Luo