adabnews.com
DI sebuah pulau kecil yang dikelilingi oleh laut dan dipagari gunung api, bekerja diam-diam sekelompok orang: aktivis lingkungan, pendidik lokal, penyuluh desa, pemuka adat, hingga relawan muda. Mereka bukan pejabat berseragam, bukan pula organisasi besar beranggaran miliaran. Namun dari tangan merekalah lahir sebuah gerakan kolektif: Forum Pengurangan Risiko Bencana (Forum PRB) Lembata.
Saya pun tergerak menemui Ketua Forum PRB Lembata, Mikhael Alexander Raring (2025–2028) untuk mendalami sejarah berdirinya forum itu.
Dari kisah tokoh muda inilah saya mengerti, gerakan ini tak lahir dari rapat resmi. Tidak dari gedung besar. Ia tumbuh dari obrolan sederhana para pegiat lingkungan sejak tahun 1995, yang membicarakan hutan yang gundul, air yang mulai tak bersih, dan kampung-kampung yang sering diterjang banjir bandang dan longsor.
Mereka sadar, melindungi lingkungan berarti melindungi manusia. Dan dari situlah sejarah panjang itu dimulai.
---
Tsunami Aceh: Panggilan Kebangkitan
Ketika tsunami menggulung Aceh pada 26 Desember 2004, Lembata ikut terguncang — bukan oleh gelombang, tetapi oleh kesadaran kolektif: bencana bukan sekadar peristiwa alam, tetapi persoalan kemanusiaan.
Pemerintah Indonesia menerbitkan UU No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana — regulasi yang kemudian menjadi pijakan banyak daerah, termasuk Lembata.
Yayasan Bina Sejahtera (YBS) — yang sejak awal aktif di isu lingkungan — mendapat dukungan Oxfam. Pelatihan dilakukan, diskusi digelar, dan untuk pertama kalinya para pihak duduk satu meja: pemerintah, NGO, tokoh masyarakat, dan pemuda desa.
Di sini kekuatan itu mulai dibangun: pengetahuan dibagi, kapasitas diperkuat, jejaring tumbuh.
---
8 Oktober 2008: Lembata Memulai Langkah
Di hari itu, lahirlah Pokja Penanggulangan Bencana (Pokja PB) Lembata, dipimpin oleh Alm. Markus Sidhu Batafor, seorang putra daerah yang percaya bahwa bencana hanya bisa dihadapi dengan persatuan.
Pokja PB tidak sekadar forum diskusi. Mereka mengadvokasi. Mereka menembus kebijakan.
Dan pada 2009, lahirlah BPBD Lembata, sebuah institusi formal yang dulu dianggap mustahil.
---
Dari Pokja Menjadi Forum PRB: Sebuah Lompatan Sejarah
Perubahan signifikan terjadi pada 1 Februari 2012, ketika Forum PRB Floresta Raya berdiri di Sikka dan merekomendasikan transformasi Pokja PB Lembata.
Momen berikutnya bahkan lebih menentukan: DR. Eko Teguh Paripurno hadir di Lembata. Ia adalah: Perancang UU 24/2007, Penerima Penghargaan PBB (Sasakawa Award, 2009), Arsitek Forum PRB Jogja, Tokoh global di bidang PRB.
26 Juni 2012 — di Hotel Palm, Lembata — Forum PRB resmi berdiri.
Hari itu kini diperingati sebagai Hari Lahir Forum PRB Lembata.
Ketua pertamanya: Alm. Amran Atamara
— sosok yang dikenal tegas, sederhana, dan penuh pengabdian.
---
Menjahit Kolaborasi, Menata Struktur (2012–2016)
Forum PRB mulai bekerja bukan hanya sebagai organisasi, tetapi ruang belajar bersama.
Relawan lintas komunitas bergabung, Statuta disusun, Birokrasi dilibatkan, Anak muda tergerak.
Ada yang datang dengan ilmu, ada yang datang dengan tenaga. Semua berkontribusi.
Dan pada 13–14 April 2016, Musda I digelar.
Untuk pertama kalinya, Forum PRB punya statuta yang sah. Pengurus dilantik langsung oleh Bupati. Ketua terpilih:Yohanes Gregorius S.D. Koban yang memimpin selama dua periode. Saat ini, Yohanes menjadi Kalak BPBD Kabupaten Lembata.
---
Berproses, Berbenah, Bertumbuh
Musda II (2019) dan Musda III (2022) memperkuat struktur dan mekanisme kerja.
Ketua ketiga: Antonius Molan Leumara yang memimpin Forum melewati masa sulit — termasuk masa pandemi covid 19. Hingga tiba saat regenerasi.
---
Musda IV: Masa Baru, Semangat Baru
25 Oktober 2025, di Aula Kantor Bupati Lembata
Forum PRB kembali memilih pemimpin baru:
Mikhael Alexander Raring (2025–2028)—tokoh muda, aktivis literasi, dan penggerak komunitas.
Ia hadir bukan untuk menggantikan melainkan melanjutkan perjuangan:
“Forum PRB bukan sekadar organisasi. Ini adalah kerja kemanusiaan. Dan kita akan menjaganya,” ujar Raring.
Jejak Perjuangan: 30 Tahun, Satu Spirit
Forum PRB Lembata adalah cermin perjalanan perubahan Dari kesadaran ekologis → ke sistem kebencanaan modern
Dari gerakan sukarela → menjadi platform multi-stakeholder
Dari Pokja kecil → menjadi Forum yang diakui nasional
Dari upaya lokal → menjadi bagian dari PLANAS PRB Indonesia. Perjuangan ini telah mengikat satu benang merah:Pengurangan risiko bencana bukan sekadar kerja teknis.
Ia adalah: kerja sejarah, kerja sosial, kerja kemanusiaan Dan yang paling penting: kerja bersama.
Forum PRB Lembata telah membuktikan: di pulau kecil sekalipun, riak kecil bisa menjadi gelombang besar ketika kita bergerak bersama.
Dan gelombang itu hingga hari ini masih terus membawa harapan. (adabnewsteam).




Berita Terkait
Dinilai Berhasil Tekan Angka Stunting, Bupati Lembata Terima Penghargaan Dari Kemenkes RI
Workshop Diseminasi Hasil Survei Kekerasan dan Bullying di Satuan Pendidikan di Lembata
Warga Desa Waimatan Pelajari Kearifan Lokal Muro di Desa Lamawolo
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan Lebat–Sangat Lebat, Lembata Masuk Status Siaga
Damkar Goes to School, Upaya Dini Penanggulangan Kebakaran di Lembata
PLAN Atasi Kesulitan Air lebih dari Dua Dekade di Lamau
Banjir dan Angin Kencang Di Ile Ape Rusak Jalan dan Ruang Kelas, BPBD Lembata Lakukan Kaji Cepat
Bupati Lembata: Diaspora Adalah Jembatan Pemasaran UMKM, Pangan, Dan Hasil Laut NTT
Melaut Sejak Minggu Sore, Nelayan Balauring Belum Kembali
Kapolres Lembata: KUHAP Baru Lebih Berimbang, Buka Peluang Restorative Justice