Yustina Hekur: Dari Stigma ke Harapan — Perjuangan Ketua Kelompok Dukungan Sebaya Melawan HIV dan Diskriminasi

photo author
- Senin, 02 Februari 2026
Yustina Hekur: Dari Stigma ke Harapan — Perjuangan Ketua Kelompok Dukungan Sebaya Melawan HIV dan Diskriminasi
AIDS
Dapatkan full source code Asli

Lembata— PERJALANAN panjang Yustina Hekur, Ketua Kelompok Dukungan Setara (KDS), menjadi bukti bahwa HIV bukan akhir dari segalanya. Terdiagnosis sejak 2005, Yustina kini sudah mencapai kondisi undetectable setelah menjalani pengobatan Antiretroviral (ARV) secara rutin, dan telah dinyatakan tidak berpotensi menularkan HIV.

Riwayatnya dimulai pada 19 Desember 2007, saat ia pertama kali menjalani pemeriksaan dan mulai mengonsumsi ARV. 

“Saya sudah tes lima kali, dan hasilnya undetectable. Artinya, tidak ada lagi penularan,” jelasnya.

Menurut Yustina, ia terinfeksi dari mendiang suaminya ketika mereka tinggal di Makassar. Suaminya meninggal pada 2005, dan baru saat menjelang wafat itulah kondisi kesehatan almahrum suaminya terungkap. 

Setelah itu, Yustina menjalani pemeriksaan awal di Maumere sebelum akhirnya melanjutkan perawatan di Kupang.

Pada 2015, ia kembali menjalani tes viral load di Kupang dan menunjukkan peningkatan kesehatan signifikan. 

“Dulu naik 500 dari sebelumnya 200, dan sekarang nol ketika diperiksa viral load,” ujarnya.

Perjuangan Melawan Stigma

Meski terbuka sebagai ODIV (Orang Dengan HIV), Yustina mengaku masih sering menghadapi stigma, bahkan dari tenaga kesehatan.

Upayanya mencari nafkah melalui berjualan kue pun tidak selalu diterima baik oleh masyarakat. 

“Masih ada yang takut-takut. Padahal HIV tidak menular lewat makanan,” kata Ma Ne.

Diskriminasi juga sempat terjadi di lingkungan keluarga. Anak menantunya pernah memilih pulang ke rumah orang tuanya karena ketakutan setelah mengetahui status Yustina.

“Setelah saya bawa dalam doa, dan mendapat penjelasan dari Yayasan Flobamora, akhirnya dia kembali. Keluarga yang dulu takut dan jijik, sekarang sudah tidak lagi, ” kata Yustina. 

Ia kini tinggal bersama dua anaknya, yang dinyatakan negatif setelah menjalani tiga kali pemeriksaan.

Advokasi dan Pelayanan Kesehatan

Sebagai Ketua KDS, Yustina terus mendorong edukasi masyarakat dan pendampingan bagi ODIV lain. Ia mengaku bekerjasama dengan aktivis Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Lembata, Nevri Eken. 

Yustina mengaku pernah bolak-balik ke Maumere demi mendapatkan ARV sebelum akses obat itu tersedia di Lembata.

“Kami berjuang menghadirkan klinik VCT dan ARV. Tahun 2011 belum ada obat dan klinik. Baru pada 2013 VCT mulai tersedia, dan 2017 akses ARV sudah rutin,” jelasnya. 

Saat ini sudah ada 15 klinik VCT di Lembata, meski edukasi publik masih sangat dibutuhkan.

Harapan untuk Generasi Muda

Yustina berharap generasi muda lebih menjaga pola pergaulan dan menghindari perilaku berisiko. 

“Prinsip saya, biarlah cukup saya saja. Jangan ada lagi orang baru yang mengalaminya,” tuturnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, ia tetap optimistis. Dengan dukungan masyarakat, ia berharap usaha kecilnya dapat berkembang. 

“Kami butuh dukungan modal usaha. Stigma masih ada, tapi kami terus bergerak.”

Sebagai penyintas yang kini hidup sehat, Yustina mengajak masyarakat untuk tidak lagi takut berinteraksi dengan orang dengan HIV (ODHIV). 

“Pribadi dan keluarga harus kuat. Konseling itu penting. Dari pengalaman saya, banyak yang akhirnya mau tes setelah dengar testimoni saya,” tutur Yustina.

Perjuangan Yustina menjadi pengingat bahwa dengan perawatan yang tepat, dukungan sosial, dan hilangnya stigma, ODIV dapat hidup normal, sehat, dan bermakna. (adabnewsteam).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Berita Terkait

Terkini

X
Dapatkan Full Source Code - CMS DATAGOE