Guru di Tengah Gelombang Perubahan—Refleksi dari Puncak Hari Guru Nasional 2025 di Lembata

photo author
- Kamis, 04 Desember 2025
Guru di Tengah Gelombang Perubahan—Refleksi dari Puncak Hari Guru Nasional 2025 di Lembata
Dan di halaman SMPS St. Pius X Lewoleba, cahaya itu terasa sangat terang
Dapatkan full source code Asli

HALAMAN SMPS St. Pius X Lewoleba, Selasa (25/11/2025), dipenuhi warna—baju adat, pakaian seragam siswa, dan senyum hangat para pendidik. Namun lebih dari itu, ada sesuatu yang terasa berbeda: sebuah getaran harapan. 

Puncak peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025 yang dirangkai dengan HUT ke-80 PGRI bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi ruang refleksi tentang masa depan dunia pendidikan Lembata di tengah gelombang perubahan yang semakin cepat.

Ketika Bupati Lembata, P. Kanisius Tuaq, melangkah ke mimbar upacara, suasana menjadi hening. Di hadapannya berdiri guru-guru dari berbagai generasi—mereka yang telah puluhan tahun mengajar dan mereka yang baru memulai langkah. Semuanya memikul satu misi: menjaga masa depan anak-anak Lembata.

Guru di Era Perubahan Besar

Dalam amanatnya, Bupati Kanis Tuaq menegaskan, pendidikan tidak lagi berada di zaman yang sama seperti 10 atau 20 tahun lalu. Teknologi, digitalisasi, kecerdasan buatan, hingga perubahan pola pikir generasi muda—semuanya mengharuskan guru bergerak lebih cepat, lebih fleksibel, lebih berani berinovasi.

“Momentum ini bukan sekadar perayaan,” ucapnya, suaranya tegas namun hangat. “Tetapi penegasan kembali tugas mulia guru: mencerdaskan, membentuk karakter, dan menjaga masa depan bangsa.”

Tema nasional Guru Hebat, Indonesia Kuat dan tema HUT ke-80 PGRI Guru Bermutu Indonesia Maju bukan hanya slogan, tetapi arah perjalanan. Dari mimbar itu, Bupati menggariskan tiga karakter guru masa depan—mengajar dengan hati, adaptif terhadap teknologi, dan tergerak untuk berinovasi.

Tiga karakter yang sesungguhnya menggambarkan lanskap pendidikan hari ini: ruang kelas yang menuntut keteladanan, dunia digital yang berkembang lebih cepat dari kurikulum, dan ekosistem belajar yang semakin inklusif serta tanpa batas.

PGRI sebagai Rumah Besar

Di bawah tenda-tenda upacara, para guru menyimak ketika Bupati bicara tentang PGRI. Organisasi yang telah berusia delapan dekade itu, katanya, bukan sekadar wadah profesi. Ia adalah rumah besar—tempat guru mencari perlindungan, saling menguatkan, dan bertumbuh bersama.

Bupati mengingatkan pentingnya konsolidasi organisasi. “PGRI harus hadir bukan hanya ketika ada masalah. Ia harus menjadi pusat peningkatan kapasitas dan inovasi pendidik,” ujarnya.

Mengakui Kekurangan, Membangun Harapan

Dalam momen yang jarang terjadi pada upacara formal, Bupati Kanis Tuaq menyampaikan permohonan maaf atas persoalan-persoalan yang masih membebani guru: administrasi yang rumit, distribusi guru yang tidak merata, serta kesejahteraan yang belum sepenuhnya menjawab kebutuhan hidup.

Para guru mengangguk pelan—mengakui kebenaran, tetapi juga merasakan kejujuran.

Namun Bupati tak berhenti di situ. Ada komitmen yang ia tegaskan: pemerintah akan tetap berdiri di belakang guru. “Kami ingin memastikan guru berada di garis terdepan menghadapi perubahan zaman,” katanya.

Mengajar Tidak Lagi Sama

Perubahan paradigma pendidikan mendapat sorotan khusus. Hafalan bukan lagi tolok ukur utama kecerdasan. Dunia baru membutuhkan generasi yang kritis, kreatif, adaptif, dan berkarakter.

“Guru kini adalah fasilitator, pembimbing, inspirator,” tegas Bupati. “Bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan.”

Di antara para peserta upacara, beberapa guru muda saling bertukar pandang. Mereka adalah wajah baru pendidikan—mereka yang lahir dalam dunia teknologi, tetapi tetap berjuang menemukan jati diri profesinya di tengah tuntutan yang terus berubah.

Ruang Apresiasi di Tengah Tugas Berat

Upacara ditutup dengan penyerahan piagam GTK berprestasi dan penghargaan Mohammad Syafei Awards dari IGI. Tepuk tangan panjang mengiringi para guru yang melangkah maju menerima penghargaan. Bukan karena mereka sempurna, tetapi karena mereka setia. Karena mereka hadir setiap hari, di kelas-kelas sederhana, menanamkan semangat yang akan tumbuh jauh melampaui usia mereka.

Panggilan untuk Bersama Menjaga Masa Depan

Sebelum menutup sambutannya, Bupati memberikan pesan yang terasa seperti janji sekaligus doa:

“Mari jadikan pendidikan sebagai tanggung jawab bersama: guru, pemerintah, orang tua, dan masyarakat. Demi terwujudnya Lembata dan Indonesia yang lebih cerdas, berdaya saing, dan bermartabat.”

Hari Guru Nasional tahun ini bukan hanya peringatan—ia adalah pengingat bahwa guru selalu berada di tengah pusaran perubahan. Tetapi justru di sanalah letak kekuatan mereka: menjadi cahaya yang tidak padam, bahkan ketika zaman bergerak terlalu cepat.

Dan di halaman SMPS St. Pius X Lewoleba, cahaya itu terasa sangat terang.(Alex). 


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Berita Terkait

Terkini

X
Dapatkan Full Source Code - CMS DATAGOE